February 2012
1 post
Terima Kasih
Kepada teman teman yang sudah berbaik hati membagi sedikit waktunya untuk memenuhi pinta Nona Sadgenic, aku berhutang penuh pada jari jarimu yang menggoreskan pensilnya dan juga kepada mata mata yang menangkap foto untuk mengilustrasikan sajakku.
Aku ucapkan terima kasih yang terpintal penuh dari dalam hati
Terima kasih telah berbagi kehangatan dalam karya yang kalian kirim melalui e-mail...
January 2012
7 posts
Sadgenic Project →
Menyambung postingan sebelumnya, tentang Pinta Nona Sadgenic. Di dalam link ini merupakan referensi acuan nafas yang diinginkan di dalam buku, tapi tidak membatasi kalian untuk menginterpretasikan sendiri-sendiri.
Sangat menunggu karya kalian untuk dipilih dan menghias buku-ku :)
Pinta Nona Sadgenic untuk sebuah buku
Kepada mata mata yang kuhutangi rasa terima kasih. Setahun lebih usia kertas maya di sini, terima kasih atas sapuan mata yang menyisiri kata-kataku dengan manja.
Kali ini, sapaku diselipkan sebuah pinta. Beberapa halaman-halaman disini akan segera dijadikan sebuah buku, senang rasanya nanti, aksara-aksara disini terkumpul menjadi satu dan ada di genggaman jemarimu, terbawa di tasmu, atau mengisi...
Kalau diserang badai suara dari mana-mana, simpan telingamu di saku baju,...
– Rahne Putri
Surat dari @Estipilami →
Menerima surat dari #3oharimenulissuratcinta, terima kasih @estipilami :)
Surat cemburu dari @benjalang, untukku →
[Dalam rangka #3oharimenulissuratcinta, ada yang menulis surat cemburu untukku]
Dear, Rahne Putri.
Entah kenapa, mataku terasa begitu pedas saat membaca bebalasan suratmu dengan Jepri a.k.a. Zarry Hendrik.
Mungkin semua karena aku yang terlalu mengagumimu; seorang pengagum yang tak pernah kau kenali. Terdengar aneh, namun begitulah adanya. Meski belum pernah bertemu, tetapi aku merasa kau...
Terima Kasih :)
Histerisnya beberapa pihak terhadap kabar dari Zarry semalam membuat aku iseng mematahkan beberapa kata yang seolah-olah dari hati. Aku geli dan juga haru melihat semua doa, pujian, harapan, untukku kepada Zarry. Tulisan dibawah adalah bumbu-bumbu drama semalam, sekali lagi aku katakan aku tidak bersungguh-sungguh menulis ini karena Zarry, tapi tidak kupungkiri, yang kutulis ini pernah kurasakan...
Drama Semalam
Kepada Zarry, penuntun kata kata yang menetas di jari.
“Hai”
Ingat saat pertama aku mengucap kata ini dari suaraku dan didesingkan langsung ke telingamu? Ah, semoga ingat, kamu kan pelupa yang sulit dilupakan. Sebelumnya aku ingin merunut, awal mula kita berjumpa dan dipertemukan dalam bait-bait kata. Tahun 2010, kalau ingatanku sedang benar dan tidak diracaukan oleh kamu (hehe here...
December 2011
6 posts
Layang Layang
Selain menulis surat dan dihanyutkan perahu kertas, sesekali ingin kucoba menulis harapan di layang-layang.
Kutulis di kertasnya yang tipis, kurekatkan pada bambu penahannya. Kuterbangkan layangan itu, biar dia berdansa dengan udara. Swing atau tango, entahlah.
Benangnya akan kupegang erat, lalu di saat aku siap, kulepaskan dengan senang hati. Biarlah layangan harap & doaku pergi....
Buku Waktu
Ada rentetan huruf yang belum ku-eja. Tersimpan dalam buku waktu. Kutelusuri satu per satu halamannya. Hingga kutemukan namamu.
Buku waktu..
Aku tau bab awal, tapi aku tak tahu kapan bab terakhir. Yang kutahu aku harus terus membuka satu per satu. Pada suatu halaman, aku beri pembatas buku berupa pita berwarna merah. Aku terhenti. Aku berhenti. Di situ.
Enggan membaca lagi. Kutinggalkan di...
Kamu, ruang pelangi yang kuwarnai dalam setiap hembusan
Kamu, puisi abadi yang kutemukan pada setiap kedipan
Jatuh cinta ke kamu itu repetisi, selalu terulang lagi lagi lagi lagi...
– Rahne Putri
I’ll breathless without you, you’ll heartless without me.
– Rahne Putri
November 2011
7 posts
Jangan sampai sepi melahirkan hampa. Karena riuh yang paling gemuruh pun akan susah menimangnya. Kalau hampa lahir, dia akan merangkak & belajar berjalan mengelilingi hati, lalu berlari-lari di kepalamu. Kamu akan lelah dan mendekati mati rasa. Bulan akan menangis di setiap tidurmu dan matahari gelisah di setiap pagimu.
Untuk itu, sebelum hampa. Kusegerakan menuju kamu.
Setiap tempat yang kita pijak selalu menjadi istana. Kamu, Pangeran waktu. Detik bersamamu, singgasanaku.
Kamu lari dari hati ke kepala. Mengobrak-abrik lagi apa apa saja yang masih tersisa.
Perjalananmu mengalir bersama darah. Mendesir gelisah ke segala arah.
Sesampainya di kepala kamu bingung. Ada kamu di dalamnya. Bukan satu, tapi seribu, dua ribu, entah kau sendiri tak sanggup menghitungnya.
Di hati kamu hanya satu, di kepala kamu sejuta, menempati luas rasa yang sebesar luar angkasa dikali...
You don’t promise anything except emptiness. You should have warned me before, thank you.
Oh and i wanna thank you for the very gentle reminder that you are not really a gentle person.
Adios.
Brain & Heart
Brain: “Heart, i can’t reach you. Tell me your YM, i wanna talk to you”.
Heart : “Sorry, i’m busy preparing myself for him. Call me later”
Brain : “It’s about him, i had a bad feeling”
Heart : “Pardon me, feeling? Hey i owned that! Where’s your logic anyway?”
Brain : “I can’t reach you! if...
October 2011
20 posts
Laci Suara →
Disini saya menyimpan suara-suara saya yang terpilin agar seirama dengan nada. Semoga ruang di telingamu berkenan dilewatinya :)
Karena hangat matahari terselip di sela jemarimu. Kau akan selalu menjadi bayangan pagi. Tempatku bebas bersembunyi.
Palung terdalam terletak di matamu. Tatap aku lama-lama, aku senang tenggelam...
– Rahne Putri
Lamat lamat derapmu mendekat. Aku tahu. Tibamu tepat. Kau tidak akan pernah terlambat.
Lamat lamat terlumat mimpi. Lamut aku dengan kecupan esok pagi.
Aku harap sepi membisu. Biar yang hingar hanya suaramu
– Rahne Putri
Let’s go back to the beginning, when we were just two strangers....
– Rahne Putri
Ada saat dimana kita tidak perlu menoleh ke belakang. Jangan lihat lagi apa yang sudah (ikhlas) kita tinggalkan. Aku percaya, itu akan meringankan langkah, untuk menjemput sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih melegakan. Sesuatu yang membuat kita bersyukur, karena menjemputnya dengan tangan yang sengaja sudah dikosongkan.
Sungguh itu tidak semudah bernafas. Aku berdiam terlalu lama untuk menahan...
Jika semua doa kita dikabulkan Tuhan, apa kita sudah siap?
Kamu mengalir dan biarlah aku menjadi hilir.
– Rahne Putri
Tak cukup kau buru aku lewat kenangan, kau tikam pula aku lewat mimpi.
Maumu apa? hatiku sudah terkoyak, aku tak punya lagi.
Bagaimana menghilangkanmu?
Saraf di kepala bagian mana yang harus kuputus untuk mengenyahkan kamu yang terus menggerogoti.
Seperti rayap
Yang enggan meninggalkan kayu.
Sudah cukup kau jajahi aku seperti itu.
Di coklat matamu, aku tenggelam dan membiru.
Luruh
Di rentang tangan mana lagi bisa kusisipkan cinta yang menggebu?
Di kepala siapa lagi bisa kuselipkan bayangan yang enggan menyirna?
Di paru paru mana lagi bisa kutitipkan separuh nafas sepanjang umurku?
Langkah kaki siapa lagi yang bisa kuikuti? Dimana setiap derap pijakannya kuawasi dengan hati.
Di proyeksi mata siapa lagi bisa kuhamparkan senyumku?
Di telinga siapa lagi bisa...
Tuhan jika aku terlalu berseru. Ingatkan aku dengan tanda seru.
Hujan mengetuk ngetuk jendela tapi kenapa pintu kenanganku yang terbuka?
– Rahne Putri
Dad & his lovely in memoriam daughter →
Teringat lagi kisah tentang almarhumah Cindy dan ayahnya yang menggunakan wall FB sebagai jembatan berkomunikasi. Membacanya lagi membuat saya terenyuh, betapa kasih sayang ayah begitu besar kepada putrinya yang telah tiada. Ada 2 postingan, silahkan dibaca (klik judul diatas)
Dear Future Me,
Hai. Kemarin kamu sedang bersedih, tapi seperti biasa, kamu bisa menyembunyikannya dengan tawa. Iya itu karena dia, salah satu pria yang pernah memasuki benakmu saat itu. Iya, laki-laki yang keluar masuk di kepala dan hatimu kan tidak banyak, hanya beberapa, pasti kauingat yang kumaksud siapa, dan lalu saat detik matamu terpaku pada barisan aksara ini, kau sembari tertawa akan melihat sosok...
Kalau saja tak ada gravitasi. Aku takkan jatuh dan sesakit ini.
September 2011
25 posts
Kapan kau berhenti jadi fatamorgana? Kenapa kau tak mewujud saja. Hingga nyata. Keluar dari cakrawala.
Jawaban semua kapan adalah waktu.
Kubuka koleksi arloji di laci kepala,
kubenahi satu persatu,
mungkin ada yang salah,
pada semua detikku.
Di jalan mana lagi kutemui jejakmu? Semuanya sudah terpenuhi debu. Yang ada...
– Rahne Putri
Sekali rengkuh, mengutuh. Jangan kau lepas, nanti rapuh.
Sekali rengkuh, tersentuh. Jangan dihempas, nanti lumpuh.
Aku hanya seputaranmu. Sejengkal Tuhan.
Dekap aku perlahan-lahan.
Kamu substansi ribuan detik penantian, akar jutaan rindu, siap kuhitung hingga...
– Rahne Putri
Kita ini sepasang sepi yang bersulang dalam cangkir sendiri-sendiri
– Rahne Putri
Sungguh jenaka sekali, bagaimana aku yang pelupa ini butuh jutaan waktu untuk melupamu. Menghapus senyummu butuh jutaan liter air mata. Merepih jejakmu butuh melewati ratusan mimpi.
Sungguh jenaka kamu membuat aku seperti ini, kamu mungkin sudah berada di jalan yang tak lagi sama, tapi aku terus melewati jalan itu untuk mencarimu.
Tuhan aku hanya ingin lupa.
Buatlah dia seperi kabut yang...
Slow down, smell the moon, kiss the stars, appreciate the gift of the present moment.