Cerita Tentang Seorang Ayah

Pagi ini, saat saya dan keluarga sudah berada di bawah lindungan kubah masjid untuk melaksanakan ibadah Shalat Ied, saya mendengar sebuah cerita tentang, katakanlah kerabat, yang selama ini dekat dengan keluarga besar saya.

Namanya Pak Pa’i. Dia adalah orang yang suka membantu Eyang saya yang bermukim di Pandaan, karena di rumah sana kurang tenaga laki-laki, maka dia sering dipanggil ke rumah untuk mengerjakan segala sesuatu. Dari kadang jadi tukang, trus suka dimintain tolong membelikan alat-alat bangunan atau apapun di Pasar yang letaknya jauh dari rumah, atau jaga rumah saat semua orang pergi, dan lain lain.

Saya sendiri sebenernya tidak terlalu dekat dengan dia, umurnya sekitar pertengahan 30 tahun, paling kalau saya sedang di rumah eyang, saya hanya bertegur sapa seadanya, tapi memang terlihat dia orang yang baik dan hormat sama Eyang saya. Lalu, tadi, pada saat takbir terdengar dimana-mana bersamaan dengan melodi tetesan hujan dari langit di hari raya ini, Ibu bercerita kalau dia baru saja meninggal tepat seminggu yang lalu. Innalillah, saya kaget, sungguh, terakhir saya bertemu adalah saat Eyang saya meninggal Maret lalu dan dia masih terlihat sehat, sungguh tiada siapapun yang bisa menebak umur seseorang, kemudian Ibu saya bercerita tentang kondisi Pak Pa’i.

Dia belum lama menikah, anaknya juga masih kecil-kecil, kalau tidak salah ada 3. Salah satunya ada yang menjadi cacat, saat masih bayi, neneknya tidak sengaja menjatuhkannya saat berada di gendongan, hal ini membuat syaraf di lehernya bermasalah hingga ia tidak sanggup berdiri, dan yah perkembangannya tidak seperti anak anak biasanya. Saya miris mendengarnya, kondisi perekonomian mereka kurang dari cukup, Pak Pa’i pun bekerja serabutan, kadang jadi ojek, tukang parkir, kadang jadi orang yang membantu memberi jalan truk truk besar agar bisa belok di jalan raya dekat kampung Eyang saya, kadang jadi tukang. Apapun dia lakukan, dan semua itu dilakukan untuk anaknya ini supaya cepat sembuh.

Saya juga tidak tahu apakah dia pernah mencoba bekerja yang berpenghasilan tetap atau tidak, tapi saya rasa, yang ia kerjakan selama ini, mungkin itu menurut dia yang terbaik. Sampai di titik Ibu saya bercerita ini, tanpa saya sadari air mata turun dari sudut indra penglihatan saya. Saya melihat betapa perjuangan seorang ayah, yang sedemikian rupa, apapun ia lakukan unuk kesehatan anak kesayangannya. Menurut cerita dari yang Ibu saya dengar, Pak Pa’i ini semenjak anaknya ‘sakit’ dia jadi kepikiran, dia stress, dan itu yang menyebabkan kondisi tubuhnya menurun. Lalu minggu lalu, di hari Rabu malam, ia sempat mengeluh dadanya sesak, dan ia meminta diantarkan ojek untuk ke dokter, berhubung hari itu tanggal merah (HUT RI) sudah 2 dokter dikunjungi tapi tutup, lalu saat akhirnya mencapai puskesmas yang masih buka, ojek yang mengantarkan ini kaget, karena Pak Pa’i sudah meninggal di perjalanan.

Saya menuliskan ini sambil menangis, bagaimana nasib anak-anaknya? Pak Pa’i juga masih sangat muda menurut saya, tapi suratan Tuhan menyatakan ini jalannya. Di saat ini saya jadi berkaca dengan kehidupan saya, di satu sisi ada yang dengan keringat, darah dan air mata mengumpulkan pundi pundi rupiah dengan berdiri berjam-jam di aspal untuk kehidupan keluarganya, dan sisi satunya, masih ada orang-orang yang duduk berjam-jam di sebuah coffee shop berusaha meyakinkan diri bahwa dia adalah orang yang paling terkasihan di dunia dan ingin mendapat perhatian. Disini saya sadar setiap orang punya beban hidup masing-masing, tapi suatu saat nanti, ketika saya mau mengeluh tentang kehidupan saya yang saya pikir sedemikian menyedihkan, saya harus kembali membaca postingan cerita ini dan mengingat Pak Pa’i dan keluarganya.

Selamat jalan Pak Pa’i, saya berdoa agar Bapak diterima disisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan bisa tabah. Berita terbaru yang terdengar, anaknya sedikit demi sedikit pulih, sudah tidak di rumah sakit lagi, namun kondisinya masih memprihatinkan. Semoga ia cepat sembuh dan keluarga kecil yang ditinggalkan ini ke depannya bisa mendapatkan hidup lebih baik