Pencinta Kata (Part 12)

Teruntuk Zarry, tempat kata-kataku menyemayamkan diri.

Sebelum aku membalas emailmu. Ijinkan aku mengakui bahwa aku merasa tercambuk di paragraf terakhir emailmu, bagian sebelum puisi. Uh, dasar Ksatria Aksara, seenaknya bilang masih adakah perbendaharaan kataku? hiks. Untung kau dan huruf  hurufmu selalu datang membawa sekop, menggali kata-kataku yang sering bersembunyi :))

Oke, sekarang ribuan tanda tanya hilir mudik di kepalaku. Tidak ada sama sekali panggilan masuk di Handphone mu Zarry? SAMA SEKALI? ini aneh Zarry, sangat aneh. Mana mungkin aku bisa salah dengan nomor HP mu, ketahuilah Zarry aku ini pembenci angka, namun lain halnya dengan  angka-angka yang berkaitan denganmu, semua tercetak permanen di dinding otak. Nomor HP, tanggal lahirmu, ukuran sepatumu, ukuran celanamu *eh* ( abaikan yang terakhir dengan menoyor saya :)) )

Kesimpulanku adalah:

Wanita itu mengangkat teleponku dan mungkin menghapus catatan list nomor yang masuk dariku. 

Aduh, ini mulai tidak lucu Zarry. Ibarat film, ini komedi romantis yang berubah menjadi horor tragis *ketuk ketuk meja* amit amit jabang baby.

Lalu sekarang Zarry, maukah kau mengikuti saranku?

TOLONG KELUARKAN BIR HITAM ITU DARI PERUTMU!!

Zarry, selain alkohol tidak baik untuk kesehatan, kenapa kau main minum saja HAHH?!! Kamu ga takut apa kalo di dalam cairannya itu telah diberi bubuk bubuk atau jampi jampi?!! aduuh. Lagipula tak cukup apa aku sebagai alkohol yang memabukkanmu dengan kata-kata. Muntahkan Zarry, Muntahkan!!

Untuk sementara tolong jangan makan/ minum sesuatu yang belum jelas asal muasalnya Zarry, meskipun aku tau kau suka sekali dengan yang gratis gratis sepertiku. Tapi keselamatanmu itu harga yang aku harus jaga sampai mati. Jadi tolong, jangan sembarangan seperti sampah yang enggan dibuang pada tempatnya.

Zarry, sahabat pengisi jeda lamunku.

Ada apa dengan wanita itu ya? kenapa dia ingin menjadi seperti ku?

Bukankah semua orang unik dengan caranya sendiri sendiri? Aku bukan pengisi layar kaca, layar lebar, atau kelelayar (apasih ne?). Bukan pula penyanyi. 

Dan, ia mengenal ku? apa ia salah satu dari follower kita? apa perlu kita cek avatar wanita wanita satu-satu hingga sampai ada sosok yang kaukenali bertengger mengawasi kamarmu dan memberikanmu Bir Hitam itu (jika ia memang orang yang sama). 

Salah apa kita Zarry hingga diterror seperti ini? 😦

Belum ada kejadian yang aneh menimpaku di Malang sini sih, dan jangan sampai. Sekiranya memang benar adanya begitu. Kuseret kau kesini untuk menemaniku, Zarry. 

Di bawah langit aksaramu aku berpayung. Hujan kata-katamu membasahi, menggenangi kakiku yang penuh teka teki. Derai airnya mengguyur menjadi jawaban yang pasti. Tolong sampaikan di email selanjutnya dengan jawaban kesehatanmu.

Mataku berkeliaran, mencari -cari bayangan parasmu, tolong kirimkan aku foto terbarumu Zarry, ingin kulihat sendiri tubuhmu yang seperti sedotan itu

NB: Zarry, aku luka, tapi bukan karena jatuh. Aku sakit karena tak berani menjatuhkan diri. 😥

Puisimu bagus, aku suka 🙂

-Rahne, salah satu senyawa jemarimu-

» http://zarryhendrik.tumblr.com/post/1490523139/pencinta-kata-part-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s