Mari berjalan jalan, Tuan.

Tuan, kita akan bertemu sebelum hujan terakhir menyentuh bumi, setelahnya pelangi terbalik akan terukir di bibir, menyingkirkan semua getir. 

Lalu, ijinkan aku, menemanimu berjalan jalan.

Tuan, boleh kuantar kau ke kepalaku? Kuperlihatkan jejak jejak rindu yang memenuhi nebulaku

Tuan, boleh kuantar kau ke arus nadiku? Kuperlihatkan rasa yang berlayar menembus jantung dan karam di hatiku.

Tuan, boleh kuantar ke mataku? Kuperlihatkan tikaman tajam yang kau tinggalkan saat sorotmu menatapku.

Tuan, boleh kuantar kau ke jemariku? Dimana setiap sidiknya ingin menyelimuti pori kulitmu

Tuan, boleh kuantar kau ke mimpiku? Dimana saat mataku terpejam, aku menculik sedikit kamu dan kutawan pada bunga tidurku.

Tuan, boleh kuantar kau ke peparuku? Kau bisa lihat, bagaimana aku pernah sesak dalam nafas cemburu.

Tuan, boleh kuantar kau ke langit langit kepalaku? Kau bisa lihat, bintang bintang yang ada disana, semua tercipta dari senyummu

Tuan, jika itu memang kamu. Jelajahi waktu, semaumu.

Tuan, jika memang kita bertemu dan melihat linangan di pipiku. Itu bukan tangis, itu hanya embun yang singgah sebentar dan turun di  mataku. Bukti kesejukan jiwa atas melihat sosokmu.

Tuan, kini aku lelah mengantarmu. Bisa kau giring aku ke hatimu? 

Jakarta, 12 Juli 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s