Rindu Itu (part 2)

Rindu itu beban, yang menggelayut pada lengan detik. Enggan berputar. Dan waktu perlahan menghabisimu.

rindu itu kobaran api, dan hanya kau yang bisa memadamkan

rindu itu belantara, silahkan tersesat hingga kau menemukannya.

Rindu itu, susunan aksara yang tersimpan di kepala. Barisan kalimat yang menunggu menyusuri ruang dengarmu

rindu itu sebilah pisau, perlahan mengiris hatimu selapis demi selapis. Hingga sampai ke ukuran tertipis.

rindu itu nafas yang patah, menanti angin bisikmu untuk menyambungnya lagi.

rindu itu segelas anggur, pengganti mineral agar sejenak bisa mengaburkan bayanganmu

rindu adalah mesin waktu, mengembalikan aku pada kenangan tentangmu.

rindu itu kelengahanku, kau bisa saja membunuhku saat itu.

rindu, aku harap kau punya tanggal kadaluwarsa. Membatasiku, berhenti membayangkanmu.

rindu itu, perkaraku dengan waktu. Saat kau hilang dari pandanganku.

rindu itu batu nisanku, saat kau pergi membawa nafasku.

rindu itu perjuangan, melalui badai waktu tanpa genggaman tanganmu.

rindu itu sepi dan batasnya adalah segaris cakrawala senyummu yang tertangkap retinaku.

Kamu, debu terhebat dalam otakku. Dan rindu, menambah sulaman jaring laba-laba di sudut hatiku. Jadilah otak dan hatiku ini ruang kusam tempat bersarang rindu dan debu yang bernama memori. Mereka menunggu bayangmu untuk dinaungi.

rindu itu 1sdm harapan, 2 sdm pilu, kau aduk bersama air kenangan. Dan kau telan dalam keadaan dingin.

rindu itu barisan doa, agar Sang pemilik waktu mendengar dan melindungimu kapanpun itu.

Jakarta

-hati yang rindu akan rindu-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s