Mari Melek Politik

Bermula dari percakapan saat makan siang bersama teman-teman kantor:

“Eh, kalian pilih mana nih ntar Pemilu? Bingung gue”

Pertanyaan itu disambut dengan beberapa jawaban dari buah pemikiran & frame of refference masing-masing tentunya.

“Ah gue kecewa man ama ‘si itu’, gue pengennya dia tetep di jabatannya sekarang”

“Ah aku seneng sih ‘si ono’ naik, paling meyakinkaaan”

“Eh kalo ‘si anu’ yang menang, takut gue”

Terus terang, saya suka mendapati percakapan-percakapan seperti ini dari lingkungan sekitar, khususnya temen kantoran yang mana seringkali kita ngobrolinnya cuma soal kerjaan dan project client doang. Saya senang, kami berdiskusi mengenai “perpolitikan” secara terbuka. Kami saling bertukar informasi serta pandangan pandangan mengenai  beberapa kelompok pollitik sampai ngebahas campaign-campaignnya di dunia digital.

Kemudian ada juga yang berpendapat mengenai jaman kepemimpinan Soeharto, nah kalau soal itu saya setuju dengan pandangan Pandji di blognya ini, baca aja sendiri yah.

Dulu, boro boro saya ngomongin politik. Waktu kuliah, blasss… saya engga pernah suka dan tertarik. Karena bagi saya kotor gitu ngomongin politik, saya seakan akan menyumbangkan waktu saya untuk memperkaya para koruptor, menyumbangkan tenaga saya mikirin orang-orang yang kerjanya belom tentu bener.

Semua itu berubah sejak saya mengenal ….. … gaji.

Iya saat saya mulai bekerja di tahun 2009. Dimana saya mulai berurusan dengan pihak pihak kepemerintahan. Mulai dari bikin NPWP, pindah KTP, KK, urus ini dan urus itu. Selama ini sih biasanya Ibu yang ngurusin, trus ketika tinggal di Jakarta sendiri, aku engga bisa lagi. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sendiri sebagai bagian dari masyarakat. Dan toh……..sampai kapan saya menggantungkan nasib saya sendiri untuk urus ini itu ke orang tua. Nanti jadi kebiasaan.

Kemudian saat sudah menikmati gaji dan merasakan ribetnya ngurus ini itu secara administratif, saya mulai tuh kenal sama yang namanya pajak. Kemudian mikir. Wait … gaji, yang mana saya kumpulin dengan bekerja setiap hari siang – malam ini dipotong, lalu dipotong ke mana? untuk siapa? flownya gimana? hasilnya apa? Jadi inget salah satu poin di siasat kebudayaan dari Pidato Karina Supelli ini :

Jangan jadi masyarakat yang gagap dalam berbudaya dan berkehidupan :)
Jangan jadi masyarakat yang gagap dalam berbudaya dan berkehidupan 🙂

 

Mulai dari sinilah, saya mencari tahu. Well bukannya sekarang jadi tahu banyak juga sih, tapi saya jadi melek. Banyak hal hal yang berlangsung dalam keseharian kita ini adalah hasil atau pengaruh dari keputusan politik yang dihasilkan oleh wakil wakil kita di DPRD dan juga para pemimpin Indonesia.

Q: Kenapa banyak banget ya yang dipilih?  DPR, DPRD, DPD. Bedanya apa coba?

Aku akan sedikit mengutip jawaban mas @ShafiqPontoh ya. DPR, DPRD Tk1, DPRD TK2 adalah wakil kita di legislatif via partai.

DPR

 Anggota DPR itu perlu dipilih, karena salah satunya menentukan approval APBN yang hendak dilakukan oleh presiden terpilih. Hal ini tentu berpengaruh, bila Presiden terpilih kita orangnya okeh, dia tidak bisa apa-apa kalau DPR nya tidak mendukung dia. Trus kalo Presiden gak okeh, DPR dukung dia, kita rakyat yang dirugikan. Itu sebabnya memilih anggota DPR di pemilu legiaslatif ini menjadi sangat penting sekali
DPRD
DPRD tk 1 untuk mewakili kita di tingkat Propinsi. Pegang APBD untuk Gubernur. DPRD tk 2 untuk mewakili kita di tingkat Kota. Pegang APBD untuk Walikota. 
DPD
Kalau DPD itu setara sama perwakilan daerah. Posisinya setara dengan DPR, tapi fungsinya setara turun hingga ke daerah

Fungsi DPR, DPRD & DPD selain untuk pengesahan APBN, fungsi lainnya, adalah untuk pengesahan UU. Nah makanya penting untuk dipilih.

Q: Enaknya milih yang gimana ya, Ne? Orang dengan track record bersih ya?

Sekarang dengan kemajuan teknologi & informasi, ga ada alasan lagi buat tutup mata tentang para calon-calon legislatif. Kita bisa lacak histori mereka, latar belakang mereka.

Iya, track record penting, namun setelahnya kita harus tahu visi misi mereka, cari tahu apa yang mereka perjuangkan! Karena kalo orangnya track record bersih namun memperjuangkan hal yang bertolak belakang sama keyakinanmu, sayang :(. Memilih yang pintar ya 🙂

Misal kalo peduli terhadap musik & hak hak intelektual, cari caleg yang mempunyai gambaran itu pada visi misinya. Atau yang ga pengen ada banyak Mall dan lebih banyak taman, cari yang memperjuangkan lahan publik.

Selain mbah google, kalian bisa pergunakan link / apps berikut.

Vote Cerdas (Bandung) : 

Jari Ungu: 

www.checkyourcandidates.org

http://www.ayovote.com/kepoin-caleg/

Apps seru di http://pemiluapps.org/

Masih pengen golput? Tentunya itu hak kalian, tapi usahakan datang ke TPS dan rusak surat suaramu agar tidak disalah gunakan. Kalau masih golput karena tidak peduli, ini ada pesan buat kamu:

“Buta yang terburuk adalah BUTA POLITIK. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada KEPUTUSAN POLITIK.

Orang yang BUTA POLITIK begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

(Bertolt Brecht – Penyair Jerman)

Kini bisa dibilang, saya peduli dengan politik dan mau belajar banyak hal supaya bisa lebih melek terhadap bangsa ini. Tentunya kepedulian saya ini harus dijaga hati-hati. Karena saya tidak mau kepedulian saya ditunggangi kepentingan pihak tertentu dalam politik. Segala bentuk tawaran yang masuk di twitter saya tentang politik, saya menolaknya. Saya ga mau menjadi corong & ditunggangi kepentingan yang bisa berpengaruh terhadap kehidupan publik. Meskipun saya mendukung atau berpihak pada kelompok/ kepentingan tersebut. Bukan apa apa, lebih ke prinsip.

Semoga teman-teman, kita semua juga bisa lebih peduli terhadap kehidupan berpolitik secara ikhlas, tanpa pamrih, melainkan memang menginginkan yang terbaik & memberikan yang terbaik yang kita bisa untuk Indonesia sekarang dan masa depan.

garuda02-1440x1080

Tertanda, Rahne yang masih terus belajar untuk lebih memperbaiki diri di kehidupan pribadi, berbangsa, dan bernegara. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s