PIANIS

(1)

Aku tak lagi bisa merangkai kata. Waktu kau kusaksikan bercengkerama liar dengan tuts-tuts pianomu

(kau) tenggelam dalam aliran nada. Tiba-tiba menjelma malaikat dalam lirikmu sendiri

Aku tak lagi bisa merangkai kata. Waktu kau kudengarkan bercerita bagaimana kau menciptakan lagu itu

(kau juga bercerita) dalam birama bisu. Apa yang kau rasakan dan siapa yang kau tuju

Kau ingat betul kita bertukar kisah, dua jam malam itu

Dan bagaimana aku membiarkanmu tahu sebuah rahasia. Bisikku ”koki adalah profesi terseksi, setelah pianis”

Dan penuh kemenangan, senyummu berkata: “aku pianis”  

Kau ingat betul. Aku lalu jadi penasaran dan semua tentangmu menjelma penting 

Kau, pianis.

Aku orang biasa yang cuma faham bahwa piano berbunyi indah dan lebih mudah dimengerti desahannya daripada alat musik lain. 

(2)

Aku ingat. Kau sapa aku di nada G rendah, sentuhanmu yang tegas tapi lembut. Membuatku mendesah, setengah gumam

Dan beberapa birama lalu. kita bercakap melompat lompat dalam harmoni

Titik titik hitam yang berdansa di atas partitur. Kau hilang timbul. Aku naik turun

Kita memainkan kaki dan sesekali saling menggoda di barisan hitam tombol kres

Lalu aku membisikimu sedikit rahasiaku

Jarimu semakin cepat membelaiku dan kau menjejalkan sepuluh sepuluhnya di telingaku

Aku menjerit. Memuncak di oktaf tertinggi yang kumampu

Lalu kita melambat, seolah pamit adalah kata terakhir dalam lirik kita

Ah! Tarian melodimu mengisyaratkan kebersamaan kita tinggal tujuh ketukan!

(3)

Kau bangunkan aku sore tadi. Jari jarimu lagi lagi jadikan jejer rusukku tuts pianomu

Kau sampaikan keluhmu. Airmata masih juga menempel di balik sidik jarimu dan aku mendesah sedih 

Kau utarakan gembiramu. Gelak kau selipkan di sela buku bukumu. Lalu ku terbahak

Kau ungkap rindumu. Hangat sentuhan terus pancar dari bawah kukumu. Sekonyong aku rasa damai 

Kau buai aku malam ini. Jari jarimu lagi lagi gemeletarkan buluh syarafku hingga ku meregang kenikmatan

Karena sebagai piano, aku mungkin tak sekuat itu menampung pesonamu

Tiba tiba rusukku patah dalam bahagia

(4)

Aku menunggumu dengan sabar di bawah pohon usiaku yang mengembang. Mekar bunga bunga hari ini 

Sebatang nada berpanji masih menggelayut malas di rongga telingaku. Kuingatkan, lahirnya pun dari tarian jarimu

Dan kini kau buat aku mengharap, meminta, merajuk bila tak dapat. Sekedar sebirama dua birama  

(lalu) deretan nada nada berparas elok sekali lagi. Agar aku hamil puisi dari benih benih melodimu saja

Skali saja, meski kau belum kekasihku.

Mainkanlah jarimu.

Tuts tuts itu menunggu

Dawainya menunggu

Partitur itu menunggu

Aku menunggu sembari memandangi gugurnya kelopak kelopak dari bunga di pohon usiaku

(5)

Oh! Wahai! Andai kau kehabisan bumbu masak untuk karya agungmu berikutnya, aku akan merabuk jadi ia

Hanya agar jemarimu punya perhentian. Hanya agar mereka bisa celoteh barang satu nada lebih lama

Dan aku. Dan ruhku . Dan ruhmu. Dan kau.

Bertaut jarak dalam waktu membentang. Dalam hati. Dalam benak.

Sebagaimana kita tempo tempo bertukar mimpi. Tentang pelukan pelukan di balik kusam partitur. Noda noda tinta puisi.

Dan adegan central park yang pada ia. Noda coklat yang kau sesap dari bibirku itu jelma nyata

Dan fragmen tentang aku bersandar di bahumu. Saat gol itu tercipta! (dan kita berciuman lama karenanya

Oh! Wahai! Adakah orgasme jiwa lampaui khayal kita? 

Aku betul sadar, pianis. Tiap aku terjaga kau belum akan ada di sana, tapi kutulis surat. Rahasiaku.

Kala kutanya kau, inginmu jalin hidup (dalam konsepmu). Aku setengah berharap, aku akan terpilih, dampingimu.

kali ini saja. Kuikhlaskan. Karena kita bergulat masih melepaskan kaki kaki kita dari jerat dunia. Yang memaksa kita berlari agar koin koin emas berloncatan dari jejak kita

Oh! Wahai! kutunggu kau di ujung pelangi, walau hujan belum akan reda…

Kutunggu kau, dengan puisi kutulis semalam sebelum kau temukanku. Terbaring letih di masa depan.

Oh! Wahai! biarkan aku, jadi bumbu masak untuk simfoni yang kau racik malam itu…

(6)

Hari ini aku lelah menari. Bolehkah aku hanya sekedar bersandar di bahumu yang lembut?

Saat kau lantunkan lagi simfoni yang tempo hari membuatku jatuh cinta padamu?

Aku janji aku akan berhenti memaksamu orgasme dalam puisi puisiku!

Kumpulan dari Heksologi #pianis by @therendra yang saya temukan di twitter.


Jakarta, 16 September 2010

~seseorang yang mengidam diri menjadi pianis~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s