Saturn Watch

Postingan ini bagaikan polisi di film-film India dan sinetron. TELAT PARAH. Tapi ya balik lagi ke pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, jadi saya akan ceritakan pengalaman saya melihat Saturn Watch di rooftop Planetarium beberapa bulan lalu.

Saturn Watch itu kegiatan dimana kita melihat Planet Saturnus yang sedang dekat-dekatnya dengan bumi.

Jadi saya tau acara Saturn Watch ini dari akun @haaj84. Akun twitter dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta. Dari infonya, mereka mengundang siapapun untuk datang ke Planetarium. Pengamatan Saturn Watch sendiri mulai dari jam 19.00 sampai pagi. Kalau ga salah hari itu adalah hari Sabtu. Saya sepedahan sore-sore ke sana. Pake balada mau pingsan segala di jembatan tanjakan Kuningan – Menteng gara-gara belom makan seharian haha. Sempet bersender 30 menit gitu di puncak tanjakan, atas sungai, yah lumayan pingsannya agak agak liat matahari tenggelam gitu di antara Gedung Pencakar Langit Jakarta.

Ketika sampai di TIM, makan dulu sambil nunggu jam 7 malem. Sempet ngabisin waktu di halaman belakang Gedung Teater Jakarta TIM. Enak deh… duduk duduk di bawah sambil liatin bintang. Cuma sayang kurang terang, di sana juga banyak anak-anak main skateboard, trus anak anak kecil yang lagi les tari. Suasana TIM itu emang selalu menyenangkan bagi saya.

Tiba jam 7, saya segera ke Planetarium dong. Bingung juga masuknya darimana, soalnya pintu masuk biasanya ke Planetarium sudah tutup dan tidak ada penanda gitu himpunan ini berkumpul di mana. Ternyata oh ternyata, kita bisa masuk dari kantor yang ada tepat di sebelah pintu masuk Planetarium, ada satpam yang mengarahkan kita ke pintu belakang dan kita naik ke rooftop Planetarium. Berasa punya akses khusus gitu, seru banget. Haha.

Ini suasana rooftop Planetarium TIM

Nah kubah bulat itu adalah tempat teropong yang besarnya. Sayang kurang perawatan. Ini saya sempet foto dari arah dalam kubah itu. Jadi berasa kaya Petualangan Sherina ^ ___^.

Itu ada semacam celah berbentuk persegi panjang. Nah itu bisa digeser geser sesuai arah mana yang mau dilihat dengan teleskop itu. Cuma karena kurang perawatan, menggesernya berat bangeeet. 

Kebayang pengen tau yang di Boscha. Kabarnya, yang ada di dunia ini cuma tinggal beberapa, ga sampe 5 di seluruh dunia ini dan di Asia, cuma Indonesia yang punya teleskop yang di Boscha itu (maaf ya berhubung udah lama lupa nama-namanya).  Di bagian luar sudah ditebar beberapa teleskop dengan berbagai tipe & ukuran. Kita bisa mengintip sendiri Planet Saturnus.

Trus tibalah saat aku ngintip planet Saturnus dari teleskop. Subhanallaaaah. Sebenernya sih, ga keliatan gede banget kaya di film film. Tapi menyaksikan sendiri sebuah planet dan cincinnya yang terkenal itu, saya mbrebes mili. Jadi berasa kalau kita ini kecil sekali. Cincinnya itu keliatan. Saya sempet iseng coba ngarahin lensa kamera Lumix LX5 saya ke teleskop.

Naaah itu tuh Saturnusnya. HAHAHAHAHA kecil banget ya. Ya ketangkepnya gitu dari lensa kamera saya. Susah booook ngambil gambar lewat teleskop. Sempet nemu foto Saturn Watch di belahan bumi lain.

(taken from : http://www.astronomy.ie/saturnwatch100710report.php)

Nah kalo aslinya Saturnus itu seperti apa, bisa dilihat dari APOD (Astronomy Picture Of The Day) berikut ini

 

The Universe is wider than our views of it – Henry David Thoreau.

Kalau kamu suka yang berhubungan dengan astronomi. Kamu bisa cek link berikut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s