Behind The Scene: A Someone To Call Home

Tahun lalu, saya memberikan kado buat pacar (yang kini adalah Miku) sebuah ukulele. Dari pemberian saya itu, beberapa bulan kemudian dia membuatkan lagu yang dinyanyiin pake ukulelenya. Uuuuuhh rasanya seneeeeeng banget dibikinin lagu sama orang yang spesial, lagunya pun aku suka bingiits. :’)

Nah, saat kita memutuskan mau nikah. Kepikiran buat bikin video pre-wedding yang juga merupakan video klip dari lagu A Someone To Call Home itu. Saya ‘nodong’ Saka buat bantuin bikin video klipnya. Itung itung, gantian bantuin soalnya kan aku udah bantuin dia pas ngelamar Tasya, ceritanya ada di sini :))) #temenpamrih.

Alhamdulillah dia dengan senang hati menyetujui untuk jadi sutradara video klip ini. HOREEEE. Dibantu ama Tasya, kita mendevelop ceritanya. Gimana caranya kita bikin video bisa sesuai dengan cerita kita tapi juga ga terlalu muluk-muluk karena lagi lagi kita terbatas dana dan juga waktu hahaha…

Akhirnya idenya adalah, seorang pria yang berada dalam perjalanan menuju pulang. Di perjalanan, pria ini melewati titik titik dimana dia teringat akan kehadiran seorang perempuan yang selalu membuatnya tersenyum dan terinspirasi. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah tempat dengan hati seseorang yang menjadi rumahnya …. dan itu adalah aku, a someone to call home itu ~~~

eeeeccccieeeeeeee

cuiiit cuiiiiiittt

prikitiiiiiiwwwww

Ah kaliaan, udaah dooong, jangan gitu, malu niiihh *ceritanya malu sendiri* *lah*

Kalo dikaitin ke cerita ‘real’ awal pertemuan kami berdua (bisa dibaca di sini). Aku dan suami memang sering berada di titik titik tempat yang sama waktu belum mengenal hehe. Jadi masih relate lah ya ama cerita di video klipnya.

Cerita udah ada, kita langsung breakdown. Lokasi kira-kira dimana, properti apa aja, dan juga baju mau yang seperti apa. Beruntung daku juga punya sahabat Poeti Fatima yang emang fashion stylist, baju-baju yang dibutuhin untuk syuting udah aman! Foto foto di rumahnya, kirim ke Saka, approved!

Lokasi, Saka maunya pantai dan pepohonan gitu. Jadilah kita memutuskan untuk ke Anyer. Dan karena ga mungkin kameraman cuma satu dan Saka doang, datanglah bala bantuan kita yakni Andhika Batara. Padahal dia baru balik ke Indonesia hahaha. Syukurlaaah, aku dikelilingi sahabat dan teman-teman yang kreatif dan baiiikkk.

Nah buat mobil nih yang tricky, Saka maunya mobilnya yang jadul gitu. Tapi mobil jadul kan sewanya jam-jaman dan mahaaaaal :)) – ndilallah, tetangga sepupu aku ada yang punya Corolla lama gitu. Disewa dengan harga yang bersahabat!

Namanya juga mobil tua ya, di dalamnya ada kecoak yang akhirnya kita kasih nama Michael :))
Namanya juga mobil tua ya, di dalamnya ada kecoak yang akhirnya kita kasih nama Michael :))

Menyetir mobil tua juga challenging banget, karena ga power steering jadi berat banget setirnya kalo dibuat belok, trus juga ga bisa ngebut, mobil pernya kaya hampir ga ada sehingga kena goncangan di jalan dikit bisa bikin keadaan dalam mobil kaya gempa 5 SR , dan kita juga takut mobil mrotol di tengah jalan + AC yang kurang dingin menjurus ke gak nyala :))

Setelah bersusah payah menuju Anyer, 2 hari 1 malam yang kita alokasikan rupanya gak cukup buat ngambil shot-shotnya. Ada kejadian juga dimana mobil kekunci dari dalem dan ga bisa dibuka lah, trus kejar-kejaran ama matahari yang mau tenggelam-lah. Riweuh pisaaan jadinya shot ga kekejar.  Jadi kita memutuskan untuk harus syuting lagi dengan setting pepohonan seminggu kemudian.

Totalitas Dhika. Naik ojeg demi dapet shot mobil dari jauh :))
Totalitas Dhika. Naik ojeg demi dapet shot mobil dari jauh :))

Lokasi keduanya adalah di Gunung Pancar & Gadog. Alhamdulillah proses berjalan lancar, kita pun juga ga kena ‘palak’ preman Gunung Pancar yang katanya suka minta bayaran kalo kita ketauan bawa kamera buat foto foto atau syuting.

Rela melipir di semak belukar
Rela melipir di semak belukar

Setelah syuting selesai, kemudian proses editing. Aku seneng banget liat hasilnya …. akhirnya video itu bisa diputar saat acara resepsi :’)

Terima kasih banyak buat segenap sahabat, orang tua dan pihak-pihak yang sudah membantu syuting ini. Saka, Tasya, Poeti, Dhika, Ezra, Nindya. I am so blessed having all of them as kesayangans :**

Proudly present, video clip ‘A Someone To Call Home’ 🙂 

Music & Lyric by : Rizki Yogaswara
Cornet Trumpet: Ade Paloh

Lyrics:
Someone to Call Home

i’ve walked the moon and back
got caught along the way
i’ve done the best (that) i can do
(but) still i was lost at sea

and i feel

faraway from home
faraway from home
faraway from home

i’ve searched the farthest (of) reach
to find that there’s no need
in june, you smile to me
while i was lost at see

and i feel

a longing to come home
a longing to come home
a longing to come home

a someone to call home
a someone to call home
a someone to call home

Trivia: Setiap ‘lyric’ home, shotnya selalu wajah aku :’) #SakaBisaBangetSiiiiiihhhh. Oiya, ada versi soundcloudnya juga kalau lagunya ingin didownload. Cek di soundcloud kita berdua A Beacon At Sea 🙂

Screen Shot 2014-11-20 at 11.14.29 PM

NB: Sssst taun ini aku kasih kado ulang tahunnya terompet, semoga dibikinin lagu lagi HAHAHAHAHA #ngarep #doyan 

23 thoughts on “Behind The Scene: A Someone To Call Home

  1. Sweet banget, kak Rahne :”))) aku masih nungguin detail #RYPicnicWedding nyaaa hehehehe. Pokoknya kak Rahne ini sauch an inspiresyen bangetlah. :* :*

    Like

  2. Videonya terasa manis dan hangat, kak. Terasa sekali, apalagi kalau ditonton waktu hujan begini. Lagunya juga teduh, aku suka ukulele dan terompetnya!

    You guys inspired a lot, please keep doing so, we can feel the little love, warm and happiness you brought. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s