Mendekatlah. Aku ingin tahu rasanya menyentuh nafasmu di kulitku. Berbaringlah di pundakku. Aku ingin tahu rasanya menjadi tumpuanmu sejenak waktu. Berbisiklah di telingaku. Aku menunggu dihujani suaramu.
Read MoreAll articles filed in Writing
Kepada Kamu..
Kepada kamu.. Baik, ini mungkin memalukan, setidaknya bagi diriku sendiri. Aku akan menceritakan seperti apa kondisi hati dan kepalaku tentang rasa yang sekian lama mati suri. Aku serasa menghirup kabut merah muda kala membaca ajakanmu. Ajakan kencan kita untuk pertama kalinya. Caramu berbeda. Aku suka. Tak berbelit, tak rumit, pas, tak meminta, dan tak memaksa. Kau…
Read MoreAir dari mata. Bercecaran di pipiku
Read MoreKekasih Di Masa Depan
Kepada senyawaku.. Hai sayang, saat kau membaca surat ini. Ya, tentu saja aku sudah bersamamu. Membuatkanmu kopi tiap pagi, menyiapkan sarapan dan merapikan bajumu dan segala tindakan menyenangkan lain. Tahukah kamu, saat ini apa yang aku rasakan? Ya.. Saat ini aku memang sedang berada di sebuah jalan bernama penantian. Menanti kita berjumpa di sebuah persimpangan…
Read MoreIni tanyaku…
Coba terangkan bagaimana aku bisa membuat pelangi, kalau semua warna ada padamu? Coba terangkan, bagaimana aku bisa menjadi terang jika semua cahaya masih tersembunyi di matamu? Coba terangkan, bagaimana aku bisa menghela nafas jika udaraku masih tersimpan dalam hembusmu? Coba terangkan, bagaimana aku bisa berhenti membaca? karena kau yang memegang akhir cerita Coba terangkan, bagaimana…
Read MoreI have my own heroine. Its your smile.
Jika ada tabung penahan rindu. Kutabung satu per satu disitu. Biar me-raksasa, dan lalu meledak. Biar tak membusuk di jantungku.
Hanya ada 26 aksara. Begitu sulit menentukan mana mana saja yang akan hidup di hati. Menafasinya sampai abadi.
Seperti angka 1, disitulah kamu. Berdiri tegak mengawali segala ceritaku.
