Kita dan Angkasa

Kulangkahkan kaki ke tempat itu. Entah keberapa kalinya. Sebuah tempat yang menjadi favoritku untuk menghabiskan sepotong siang bersama bintang. Aku heran, tempat ini tak seperti biasanya. Hening, tiada sesiapa.

Rata-rata pada waktu seperti ini kulihat peluh, keringat, dan keluh para orang tua yang sumpek berjejal mengantri tiket pertunjukan. Serta tawa dan tangis dari anak-anak yang berlari kesana kemari. Kali ini tidak, ini sepi, sangat sepi. Tak ada sekalipun pegawai yang terlihat untuk kutanyakan keanehan ini.

Ada getaran di salah satu sisi tasku. Pertanda sebuah pesan singkat masuk di perangkat telepon genggamku.

“Naiklah, aku ada diatas”.

Kusetapaki ruangan itu, terdengar tegas gemeletuk sepatu pantofel yang menjejaki lantai marmer ini. Menggema ke seluruh ruangan. Kunaiki tangga melingkar itu satu per satu, setiap kunaiki detak jantungku juga mempercepat pacunya. Seluruh nadi bergerak lebih kencang, tak hanya di jantung, ini terasa sekali di kepala, kening, bahkan kaki. Denyut ini terlalu hebat hingga menguasai seluruh tubuh, mendominasiku. Aku gemetar.

Aku suka kejutan dan aku bisa menebak kejutan yang ia persiapkan ini, aku tahu itu. Aku tahu.

Setibaku di anak tangga paling atas, terlihat kau di depan pintu teater, menyambutku dengan senyum hangat. Kau mendekat.

“Hai, kau terlihat pucat” sapanya. Lalu kau memelukku kuat.

“Aku menyewa Planetarium ini untuk kita berdua. Kau suka?”, bisiknya di telingaku.

“Aku sempat mendengar hal ini terucap dari bibirmu setiap kali kita mengunjungi tempat ini. Bagaimana? Kini kau bisa menikmatinya semua semesta ini, bersamaku, berdua.”, sambungnya.

Dekap dan bisiknya itu semakin membuatku tak karuan. Aku sangat senang, dia memang bukan hanya pendengar yang baik, tapi juga pengabul. Entah apa kelanjutannya sesaat lagi, apa dia akan mengabulkan sesuatu yang selalu aku tahan yang menggelitik hati kecilku.

Aku meregangkan peluknya, menatapnya matanya, tersenyum dan mengangguk. Pertanda tegunku.

Kumasuki auditorium planetarium, ruang yang beratapkan seperti kubah itu. Kulihat sekeliling, rupanya dia menaburkan mawar putih ke segala penjuru, bunga favoritku. Aku mempererat genggaman tangannya, dan bersandar di bahunya sembari berjalan ke depan projector berbentuk bola dunia bulat pelukis layar semesta mini.

Dia mempersiapkan sebuah meja untuk kita berdua. Tidak ada makanan, hanya segelas wine. Dia tuangkan untukku.

“Untuk kita dan semesta”, begitu ucapnya sambil mengangkat gelas

“Untuk kita dan semesta cinta”, tambahku sembari mendetingkan bibir gelas itu.

Kita saling melempar senyum, dalam diam itu sudah melebihi ribuan makna.

“Kau sudah ke dokter?” Pertanyaan itu meluncur dari bibirnya

Sudah” jawabku singkat

“Bagaimana hasilnya?” Tanyanya sekali lagi.

Aku diam, aku tak mau mengatakan hal yang akan menyakitiku dan dirinya. Penyakit ini sudah membuatku mati rasa, tapi mengatakan kenyataan padanya bisa membuatku jauh lebih sakit dari segala penyakit.

“Katakan padaku, aku takkan sedih, aku takkan marah. Aku siap dengan apapun jawaban, bahkan yang akan menggigiti hatiku sampai habis” tegasnya sembari membungkus jemariku dengan jarinya.

Aku menarik nafas dan menghelanya dengan panjang. Cukup menenangkan, walau sebentar.

“Hadirkan bintang untukku sayang, lalu akan kujawab pertanyaanmu”, kataku.

“Tentu, akan kuhadirkan untukmu tuan puteri”, jawabmu sambil menunduk laksana seorang pangeran.

Dia bergerak menuju ruang kaca di bagian belakang ruang itu. Perlahan ruangan itu meredup, meremang, dingin dan gelap. Dia menghidupkan bola bulat projector itu, lalu tertabur ribuan bintang di atasku.

Terlukis bayangan semesta mini di seluruh penjuru, ribuan bintang dan konstelasi. Meteor yan melintas seperti lalat, planet planet yang teracak rapi dan tak sembunyi. Berbeda dari kunjunganku yang biasanya, saat ini aku merasa benar-benar di luar angkasa. Dengan segala kejutan ini dan bersama dengan dia membuatku melayang. Gravitasi bumi tak berpengaruh apa-apa bagiku. Satu-satunya gravitasi yang ampuh membuatku jatuh adalah matanya. Dan aku bisa jatuh berkali-kali dalam kubangan cinta di dekatnya.

Ia mendekatiku.

“Sayang, sudah kuhadirkan ribuan bintang. Kini bolehkah aku tahu jawabannya?”, tanyanya sambil menatapku lekat.

Dalam gelap yang mencekat ini aku masih bisa melihat paras wajahnya, karena bayangannya terbiasa terpahat di segala pandangku, bahkan ketika aku menutup mata dan bermimpi.

Aku diam. Aku kembali menarik udara yang bersenyawa di sekelilingku, agar cukup menempati paruku dan menguatkanku untuk mengatakan jawabnya. Kubulatkan tekadku, karena ia, semestaku. Ia harus tahu.

“Usiaku tinggal 1 bulan lagi, mereka sudah menyerah sayang”, jawabku dengan sebutir air mata yang jatuh melesat dari sudut mata.

Dia tidak menjawab, dalam legamnya suasana aku bisa melihatnya berkaca-kaca. Ia menyunggingkan bibirnya dan lalu memeluk tubuhku kuat. Terlalu kuat hingga aku sesak, namun aku tak ingin melepasnya. Lalu ia rekatkan bibirnya di bibirku. Gejolak ini tak bisa berhenti, aku larut tenggelam dalam kulum-kulum asmara.

“Direntang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
sepasang tanganmu terbuka dan membiru”

Kalau begitu, kau sudah siap sayang?”, bisiknya

“Iya, sudah tak ada yang kutakutkan lagi. Sebelum mati, aku ingin merasakan abadi bersamamu, dalam semesta cinta. Luruhkan aku dalam waktu dengan ribuan bintang sebagai saksi sayang” ujarku sembari melucuti pakaianku. Ya inilah yang selalu menggelitik hati kecilku. Melebur bersamanya, tanpa beban.

Seumur yang kulalui, aku hanya punya cinta, namun waktu membatasi. Maka aku akan membuat abadiku sendiri. Bersamanya, dengan geliat jemarinya di seluruh permukaan tubuh. Dengan deru nafas yang saling tindih menindih. Aku pasrah dalam hasrat nafsu menggebu dan rintih melirih candu.

Biarlah dunia dan tubuhku membeku setelah ini. Tak seberapa lama lagi aku tak akan pulang ke dunia dan tubuhku akan membiru. Biarlah kunikmati semesta mini ini dengan nikmat semestaku. Biarlah bersamanya aku mencapai langit ketujuh.

Karena kita, sebab kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa.

“Di gigir yang curam dan dunia yang tertinggal dan membeku
Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh”

“Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
seperti takkan pernah pulang (yang menghilang)
Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang, karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa”

Writing Session “interpretasi lagu”

Inspired by “Kita adalah Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”

klik : http://frau.bandcamp.com/track/sepasang-kekasih-yang-pertama-bercinta-di-luar-angkasa for the song & lyric

Jakarta, 8 Agustus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s