Memikirkan siapa yang lebih dulu lupa. Terkadang itu yang membuatku luka.
All articles filed in Writing
Boleh minta tolong? Jangan terlalu sebentar bersamaku. Itu saja
Kamu adalah yang terakhir dengan rasa yang tak akan berakhir Kamu adalah yang pertama yang membuat senyummu di kepala berlipat-lipat ganda. Kamu adalah yang pertama, yang membuat kedua dan ketiga tidak pernah ada Kamu adalah masa, dimana kuharap waktu akan terhenti selamanya
Read MoreSeperti berada di ring tinju. Di sudut ini aku berhadapan dengan masa lalumu. Anehnya, setiap aku berusaha memukul. Yang lebam aku sendiri.
Read Morejika lelapku telah jadi milikmu. Ambillah segala sadarku. Karena semua arah pandang, hanya menyudut padamu
“bayang maya pencinta kata” (@zarryhendrik & me) ~ baca duet cerita kita “pencinta kata” di sini
Read MoreSurat Kardus: Untuk Sadgenic
Terima kasih untuk hadiah tulisannya di hari ulang tahunku dear :’) ~ Rgds, Rahne
Ini bukan sebuah surat pribadi, bukan pula surat cinta, apalagi surat lamaran kerja. Ini adalah kumpulan bait hilang dari dalam sel-sel otakku. Butuh waktu untuk menyusunnya seperti seorang arsitek lego. Aku berharap tulisan ini sampai di depan mata indahmu, membacanya bersama sunggingan senyum yang menawan itu.
Pertama aku melihat aktivitasmu di dunia maya, kemungkinan hidupmu sepert komidi putar penuh warna. Tapi ada apa dengan Sadgenic? Di sana kau terasa seperti gadis malang yang kesepian. Aku yakin kau menulis segalanya di sana tulus dari nadi-nadi cinta yang tertanam di tanganmu. Ah, kau menulis dengan misterius, tapi ketahuilah bahwa ratusan orang –di balik luar pintu kamar kosmu- telah menulis nama indahmu dengan bangga di antara daftar makhluk-makhluk inspiratif dan menaruhnya apik pada peti hati mereka.
Sudah lama aku menjadi penggemar rahasiamu, tetapi baru tahun ini bisa merasakan pelukan hangat penuh keakraban darimu. Dan hey, kau perlu tahu tentang ini, ketika pertama mendengar suaramu aku merasa terlelap di atas beludu hangat tebal yang nyaman. Tuhan memang terlalu berbakat menciptakanmu.
Aku sebenarnya agak canggung untuk mengucapkan kalimat apapun tentang hari ulang tahunmu. Rasanya terlalu lancang seperti sedang mengingatkan bahwa kau menua. Belum lagi aku tak dapat memberi kotak kejutan apapun untukmu. Aku hanya berbisik pada Tuhan agar Ia senantiasa ada dalam darahmu, lebih dekat dari nadi-nadi cintamu. 🙂
Kiss,
What a Silly Swan
nb: Aku yakin Tuhan sedang menulis romanmu. Pakailah gaun termanis dan duduk di bangku taman. Ini adalah tentang seberapa sabar kau menunggunya; seseorang terpilih untukmu
Tiap hari bawa dadu namanya niat. Digulir muncul berapa, dijalanin berapa. Kini kugulirkan dadu. Untuk melangkah ke dekatmu
Read MoreMungkin nanti, 50 tahun dari kini, aku selalu ingat tanggal lahirmu, dan tak mempedulikan berapa umurmu. Mungkin nanti, berpuluh puluh tahun lagi, kau dan aku bergandeng tangan, saling menemani check up kesehatan Mungkin nanti, berpuluh tahun lagi, kau mulai pikun, dan aku akan sabar mengingatkanmu sembari kita buka lagi album kita semasa muda Mungkin nanti,…
Read MoreCandamu. Serupa pelangi di malam hari. Semburat warna di dalam pekat. Melumat penat yang kian mengurat.
