Kakimu bergoyangoyang Sorotmu terlemparlempar Nafasmu tersengalsengal oh, pria berjaket hitam Tenang Aku berjarak sejengkal Ini mataku manja ingin dipandang olehmu ini telingaku mengajak dicandai suaramu Oh, pria berjaket hitam Siapa namamu? Lidahku kelu Huruf huruf mati bernisan disitu Aku terpenjara enggan Hanya bisa menunggu Sapaan pertamamu Di bangku kelabu Sentul, akhir November. Menghirup udara malu…
Read MoreAll articles filed in Writing
SEKALI
Kamu hanya menyapaku sekali, tapi gemanya tak berhenti sampai kini. Kamu hanya tertawa sekali, tapi gelaknya masih membuatku tersenyum sendiri hingga kini Aku hanya melihatmu sekali, tapi bayanganmu tak beranjak dari mata hingga kini. Kamu hanya sekali masuk. Belum sempat kuberikan sebagian rusuk. Kau menghilang, dan aku remuk Jakarta, 27 November
Read MoreTelingaku masih belum penuh bisikanmu, kemarikan suaramu, lepaskan ia dari bibirmu.
Lidahku berkelakar, hanya mau menyebut namamu. Dan aku menunggu huruf mana saja yang diberi kehormatan untuk membingkai nama belakangku
GERHANA
Bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, yang hanya bisa bersenggama ketika gerhana Bulan dan matahari menderita. Mereka tak pernah satu waktu. Itulah mengapa mereka mencintai gerhana. Mereka selalu menunggu konspirasi waktu, untuk lalu berpisah berlawanan arah. <baca kelanjutan puisi ini di #SadgenicBook> Jakarta 25 November 2010 ….menunggu pesan cinta yang kau titipkan, pada semesta.
Read More“Matahari & Bulan” Sepasang kekasih dalam satu tempat yang tak se-waktu
Read MoreAku sempat berpencar 8 penjuru untuk menemukan tempat terbaik bersembunyi darimu, kini aku diam, menghitung sendiri gelisahku. Karena bayanganmu, tak lagi mencariku
Marahmu seperti petir, menggelegar di telingaku, menyambar air mataku.
Kamu masih duduk di hari itu? Kapan mau berdiri dan beranjak menjemputku di hari nanti?
Read MoreSeperti air, awalmu beriak, lalu kau mengombak. Membuat gelombang pasang. Menyeretku dengan kencang.
