MALEKI & GRAVITA #2

Aku tersentak terbangun, aku merasa mendengar suara Maleki, teriakan lebih tepatnya. Kulemparkan pandanganku ke delapan arah mata angin. Dimana dia? Maleki tidak ada disampingku. Aku kembali menyapu setiap penjuru. Deburan ombak masih terlukis jelas di depanku. Saat ini pagi masih tuna netra, aku masih melihat bintang yang beranjak pamit mulai menyamarkan diri satu per satu …

Read More

Sihir Hujan

“Bagaimana rasanya jika aku SIHIR dirimu menjadi hujan”. Itu kata-kata terakhir yang aku ingat yang keluar dari kerut bibirnya kepadaku. Belum sempat aku mengeja jawaban untuknya, disinilah aku sekarang. Menatapnya yang berdiri dekat jendela kayu dibalik awan kelabu. Melekat pandangan pada seorang penyihir yang bahkan tak perlu mantra untuk membuatku jatuh cinta. Penyihir yang menyamar…

Read More

Jawaban

Aku duduk di dekatnya, sangat dekat. Namun dia terdiam. Dia membisu. Bibirnya seolah seperti tak mau saling terpisah, terlalu rapat. Lalu aku menciumnya, bibirnya masih saja lembut, ntah ramuan apa yang terkandung dalam bibir mungilnya yang tercetak sempurna itu. Efeknya seperti nikotin dan kafein, candu dan tenang. Dia tidak bereaksi, dia masih saja terdiam. Ciumanku…

Read More