Goodbye, 2018: A year of self discovery

Hari ini 31 December 2018, terbangun jam 4 pagi dan gak bisa tidur lagi, kepala berjalan-jalan ke ingatan-ingatan tentang apa saja yang sudah dihadapi dan dialami sepanjang 2018 ini.

Tahun ini sebenernya tidak mudah buat saya, tidak mudah sama sekali menghadapi pikiran-pikiran dalam diri saya sendiri. Saya juga merasa jauh dari harapan saya tahun lalu. Di tahun ini, saya semacam melakukan hal yang sama saja seperti sebelum-sebelumnya, hanya berbeda bentuk. Saya ternyata tidak benar-benar mencoba atau eksplor hal baru. Saya terjebak dengan banyaknya keinginan dalam diri sendiri tapi ga tau harus gimana atau lebih tepatnya, saya takut mencoba karena saya takut gagal.

Itu kenapa hasilnya ya gitu-gitu aja di mata saya.

Saya terus-terusan merasa gelisah. Digiring dari bagaimana tahun ini  saya ga kerja kantoran dan ga punya pendapatan tetap seperti dulu, saya ingin memaknai kata “cukup”, tapi ternyata….. perjalanan mengenalnya berliku juga. Kenapa? karena pemasukan tetap ada tapi saya selalu merasa kuraaaaaaang terus, energinya datang dari ‘takut kekurangan’.  Jadi semua dihantam, saya maruk ingin mengerjakan dan mikirin semua-muanya. Saya ga tau datangnya dari mana energi semacam itu, yang bikin semua hal jadi beban buat saya.

Belum lagi soal dealing with social media pressure. Social media bener-bener menyilaukan buat saya di tahun ini. Karena melihat kehidupan orang lain terlalu banyak sepertinya, hingga muncul rasa iri, merasa tertinggal, merasa ga hype, merasa ingin diterima sama ini ono dan inu. Huft, saya sampe lupa sama diri dan apa yang sebenarnya terpenting buat saya.

Saya hampir putus asa sama saya. Tiap hari rasanya kaya robot, mengerjakan hal-hal yang sama, saya jalani hari ya sebatas jalani aja,  ga punya drive akan sesuatu.

Sampe saya mau hapus akun social media saya. Karena capeeeekkkk. Semuanya jadi beban, udahlah ngejalanin hari rasanya kaya beban, liat instagram kaya punya beban untuk ngepost biar ngejaga engagement rate (karena tempat ini jadi sarana cari tambahan duit buat saya yang udah ga punya gaji tetap ini).

Saya terus mencoba memahami apa sih yang sedang terjadi ama diri saya ini? Saya mengikuti 30 days mindful analysis course dan berujung nangis. Saya ga bisa menjawab sebagian besar pertanyaan-pertanyaan itu. Saya baru menyadari saya ga punya mimpi, saya ga berani bermimpi.

Saya udah burn out banget dan akhir Oktober kemarin akhirnya suami, orang yang tersabar menghadapi saya,  mendaftarkan saya untuk  ikutan Self Discovery training yang namanya Asia Works. Dia sendiri sudah pernah ikutan di awal usia 20annya. Begitupun keluarganya. Trainingnya ga murah, saya awalnya was-was juga masak ngabisin duit segitu banyak buat training, mending buat nabung renovasi rumah atau buat anak, tapi suami melihat saya perlu bantuan dalam mengenali diri.

Trainingnya 5 hari dan saya bersyukurrrrr banget bisa ikutan. Trainingnya membuat saya bisa ‘ngaca’ dan ‘aware’ sama diri. Apa yang selama ini saya tutupin dari diri sendiri. Mengunjungi lagi masa lalu dan berdamai. Melihat lagi sikap yang selama ini aku lakukan. Pilihan-pilihan yang aku takut ambil.

Aku seringkali melihat apa yang terjadi dari sisi korban, baik itu dari orang tua, gimana aku ke Trah, ke suami dan lain-lain. Makanya aku selalu merasa semua hal jadi beban. Aku melihat sisi “bertanggung jawabnya”. Problem masih sama, tapi perspektifnya berbeda. Dan saya menjadi seperti 15 kg lebih ringan dari sebelumnya

View this post on Instagram

I feel like 15 kg lighter than before. . . Dua hari ini beneran ngerasa enteng banget. Problem masih ada, masih sama, tapi aku punya perspektif dan kacamata lain dalam melihat itu semua. . . I’ve been looking for A, but i got BCDEFGHIJ etc. Because i am now aware of myself, even those that i try to hide for yearsss. . . Sekarang baca quote-quote tentang apapun soal hidup, jadi lebih dalam dan bermakna. Jadi ngerti euy 😂😂. . . ……. terima kasih, @rizkiyogas. You’ve changed me 3 times : 1. Ketika kamu membuat saya jatuh cinta dan menikah. 2. Ketika kamu membuat saya menjadi Ibu dari anak laki-laki yang ga ingin aku tukar dengan apapun di dunia. 3. Dengan mengenalkan training ini, dan kamu yang selalu mengaplikasikannya setiap hari dalam perjalanan kita. . . Terima kasih karena terus membuat hidupku jadi lebih baik. 4 for you ❤️❤️❤️❤️ . #basictraining #asiaworks #asiaworksindonesia @asiaworksid

A post shared by Rahne Putri (@rahneputri) on

Saya jadi lahir dengan energi dan pandangan hidup baru. Saya lebih antusias menjalani hari. Saya lebih merasakan passion, energy, dan bersyukur. Masih work in progress. Tapi saya jauhhh mengenal diri dengan lebih baik di penghujung tahun ini. Alhamdulillah.

Jadi pelajaran yang saya ambil tahun ini dan ingin saya terapkan di 2019:

  • Penting untuk set goals dalam hidup.
  • Ubah mimpi jadi tujuan, bukan sekedar mimpi aja.
  • Stop memproduksi alasan
  • Surround yourself with people who resonates you, not the one yang you diem-diem julidin di belakang.
  • Always listen to your true self, not the image.

Sekarang, saya berusaha menulis kembali hidup dan menjalani hari dengan konteks yang baru.

2019, saya udah mulai semangat banget nih ga sabar banget menjalaninya. Saya membuat beberapa keputusan di akhir tahun dimana saya akan terjun ke hal yang baru! Asli,  deg-degan…. and i believe it’s a good sign. There might be ups and down, but i will  believe that my journey is always worth.

Buat teman-teman yang jengah mendengar kata “sabar” di tahun ini, saya mau bilang JANGAN MENYERAH YA! Biarkan masa lalu punya ceritanya sendiri, maafkan. Gunakan momen ini untuk meihat lagi pillihan-pilihan yang kita punya untuk menciptakan masa depan yang diinginkan. Selalu ada, kok. Pasti ada. Percaya sama diri sendiri ya.

Peluk-ku untuk kalian, semoga 2019 jadi tahun yang baik buat kita semua 😀

Baca juga : Kaleidoskop 2017, 2015, 2013,

IMG_6523