Seperti angka 8, dua bola matamu adalah lingkaran sempurna. Tempatku menaung asa.
All articles filed in Writing
Pukul satu empat empat dan mata mesih belum ingin kulipat. Hanya bayangmu yang kian merapat. Dalam hati yang akan kupegang erat.
Pelangiku – pelangimu. Sebulat kompilasi warna. Memenuhi hati, yang kian senja.
I LOVE VESPA
Read More– Sadgenic photo by Sogniobiettivo (Reza)
Read MoreMungkin. Ketika kau pergi. Aku kembali seperti bayi. Merangkak dan belajar berjalan lagi. Benarkah aku menjadi bayi? Kini berdiri aku tak mampu. Berjalan aku goyah. Berlari hanya melukai diri. Bayi. Ingin berbicara, tapi tak bisa menemukan bahasa. Ingin mengungkap rasa, namun hanya bisa tangis dan tawa. Dan ketika kau pergi. Aku hanyalah bayi yang bersisakan…
Read MoreAku skak mat. Mati di tempat. Kaki tak kuasa maju. Hati tak kuasa melaju
Tiga pedang
Tiga pedang menghunjam jantung Ketiganya dari tangan yang sama. Tangan yang pernah menyeka air mata Tiga pedang menghunjam jantung. Kukeluarkan sebilah demi sebilah. Dibantu tangan detik yang berputar dalam dunia dan melodi tawa. Tiga pedang menghunjam jantung. Hati bahkan berair mata. Mengeluarkannya perlu jutaan tawa. Dan logam emas penawar rasa Tiga pedang menghunjam jantung. Ku…
Read MoreDua arus. Menyetubuhi satu hilir. Aliran rasa mendebur, meleburi hancur, mengasatkan air mata. Bermuara pada jemari yg kupegang sampai mati.
Diaduk luka hingga rata. Dioles pada satu torehan. Dilapis hening enggan bergeming ditangkup senja bermasa-masa. Ini sajian. Enggan kumakan.
