Akan ada hari dimana kugelar sajadahku dan sajadahmu. Kita bersujud dalam sepenggal waktu, berulang kali. Akan ada hari, dimana seluruh doa yang terucap dari bibirmu. Kuamini juga dalam hati, 1 shaf di belakangmu. Akan ada hari kusiapkan sahurmu, dengan senang hati. Dan menanti berbuka sembari mengukir senja. Akan ada hari, kaudengungkan adzan di balik daun…
Read MoreAll articles filed in Writing
Akan ada hari, aku menunggumu di balik pintu. Menjaga hangat kopi. Untuk diteguk setelah lelahmu
with twitter family #anjinggombal. I share many laugh and love with them. Wuff them so much =3
Read MoreKita dan Angkasa
Kulangkahkan kaki ke tempat itu. Entah keberapa kalinya. Sebuah tempat yang menjadi favoritku untuk menghabiskan sepotong siang bersama bintang. Aku heran, tempat ini tak seperti biasanya. Hening, tiada sesiapa. Rata-rata pada waktu seperti ini kulihat peluh, keringat, dan keluh para orang tua yang sumpek berjejal mengantri tiket pertunjukan. Serta tawa dan tangis dari anak-anak yang…
Read MoreNyanyian Bintang
Aku melayang Dalam hampa kegelapan yang meradang Pada sejumput petang Kuikuti kunang kunang Sisiri terjalnya jurang dan ribuan karang Keringat, dan air mata berubah menjadi pedang mengiris pedih hingga lekang Langkahku kini letih tertatih, terhentiku di padang bimbang. haruskah kuteruskan? tanyaku pada nadi yang berhenti berdegup kencang. lalu terdengar nada riang, bintang menghiburku bernyanyi sumbang.…
Read MoreTENGGELAM
Aku suram Cermin mataku buram Bibir jiwaku bungkam Dalam diam, aku bergumam “Tolong, kumpulkan ribuan malam. Hingga menjadi gelap yang terkelam” Sepercik bayang senyumnya masih membuatku jatuh dalam jurang tercuram. Kenangan tentangnya masih memukul hatiku hingga biru lebam. Jutaan cahaya berpualam Tak jua mengangkatku dari palung hatinya yang terdalam. Karena cintaku Tenggelam Karam Jakarta,4 Agustus…
Read MoreBadut Penyemai Tawa
Aku sembunyikan seorang badut kecil di loker hati sebelah kiri. Dia bergincu merah. Lebar dan sumringah. Dia keluar sesekali, ke halaman senja. Dia tanam bibit tawa, sepetak demi sepetak. Dialirinyalah pekarangan itu dengan air mata. Badut penyemai tawa. Ia menunggu hingga panen tiba Badut berambut kusut. Bertubuh gendut, namun bertutur lembut. Badut tersabar dalam sejarah.…
Read MoreSesakit, sehampa, sebobrok apapun. Kamu harus bisa menghibur dirimu sendiri. Itu syarat mutlak. Untuk bangkit, merangkak dan berjalan lagi.
Aku dan kamu dalam himpunan waktu, adalah kebahagiaan rangkap tiga
BOLA RASA
jarimu jariku terpaut bersama waktu pangkat tiga Berpusat titik candu berdiameter cinta
Read More