Lagi lagi, saya menjejali udara dengan ucapan terima kasih, semoga teralun di sela telinga dan tersapu oleh matamu. Belum genap sebulan, baru melewati sekian rentang hari, saya diberi kabar bahwa #SadgenicBook akan cetak ulang karena mendapat respon positif. 

Sungguh di luar dugaan saya. Mengingat tidak semua orang yang menyukai puisi, sajak, metafora atau mengayun ayun dalam suasana mellow. Terima kasih banyak untuk kalian semua yang turut dalam membaca, meng-quote ulang tulisan, membeli buku, menyiarkan kabar. 

Saya sudah membaca beberapa review. salah satunya ini 

http://qalbinur.wordpress.com/2012/05/25/review-sadgenic-karya-rahne-putri/

Terima kasih :) 

Semoga nanti ada waktu kita semua bertemu ya, terima kasih atas dukungannya, semoga saya terus bisa berkarya lagi.

Atas semua dukungan, tepukan bahu dari para sahabat, doa dari orang tua, dan dorongan yang membuat saya menembus angin keraguan. Akhirnya buku “Sadgenic” ini sudah terbit dan dalam beberapa hari sudah bisa ditemui di Toko Buku. Di dalamnya ada banyak goresan yang tidak tersurat di blog ini. 

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Semoga kalian menikmati.

:)

NB: Bisa pesan online ke kurniaesa.order@gmail.com atau hubungi @kurniaesa & @bukukita

Hot Air Baloon at Launching Timberland Watches

Jadiii… di Hari Minggu yang indah, berjalan-jalanlah saya menuju Central Park, diundang untuk peluncuran jam dan kabarnya di sana ada Balon Udara. Hwaaa…. dari dulu pengen naik itu tapi ga pernah kesampean. Ternyata Balon Udara itu adalah bagian dari acara Timberland Watches. Pas dateng ke sana, balonnya lagi ditiup *eaaaa* *menurut looo niup balon*, intinya lagi coba dinaikin lah.

Continue reading “Hot Air Baloon at Launching Timberland Watches”

https://www.tumblr.com/audio_file/sadgenic/22461445699/tumblr_m3kc9j1QL81qag873?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Ini adalah lagu Payung Teduh berjudul Rahasia, iseng backingin suara dua plus memasukkan puisi yang terinspirasi dari lirik mereka. Berikut puisinya.

Ini Rahasiaku

Tak ada gelap, segelap jauh darimu

Tak ada terang, yang seterang senyummu

Tak ada lagi bintang di mataku

Ketika bayanganmu menjauh, membentang

Kau buat rindu dan harapku melayang-layang.

Kamu pernah menjadi senja, menenggelamkan semua

Kini yang tersisa hanya aroma tawa

Yang tersisa hanya harum air mata

Lalu aku mencari suaramu

Kuobrak-abrik namamu

Aku mencari wujudmu

Aku mencarimu 

Aku mencarimu … 

Lagu ini bisa didengar juga di Soundcloud

The Triangle Stone

Tugas #MagicalMay2012 #2 :

Cari batu (jenis apa saja) yang kamu anggap bagus bentuknya dan nyaman dalam genggaman tangan kamu. Kamu bisa cari di pinggir jalan, pinggir kolam, lalu cuci bersih batu pilihanmu. Tahu film “Inception” kan? Nah, kita juga bisa punya batu seperti Leonardo DiCaprio di film itu. Nanti malam sebelum tidur dan sebelum berdoa, genggam batu itu dan ingat-ingat apa pengalaman terbaik yang kamu peroleh sepanjang hari ini. Mengapa pakai batu? Karena ada bermilyar batu di kota kita, tapi mengapa batu itu yang terpilih oleh kita? Nah! Betapa panjangnya perjalanan batu itu untuk sampai ke tangan kita:) Batu itu berfungsi sebagai tanda pengingat the best thing of our day.

Dan inilah hasil perburuannya

Sebenernya hampir seharian ga sempet nyari batu. Pas mau berangkat ke kantor udah dijemput ojek, kerja di kantor seharian, lembur, pulang udah ga ada tenaga untuk nyari batu di sepanjang jalan kost, saat lagi tengak tengok di teras, saya melihat ke pot tanaman, ternyata ada batu batu di dasarnya, dan saya menemukan satu batu yang berbentuk segitiga, “The Triangle Stone”. 

Continue reading “The Triangle Stone”

My Gratitude List 2012

Di penghujung hari pertama di Bulan Mei ini, saya akan mencoba mengikuti project #MagicalMay2012 yang dibuat oleh @Dear_Connie & @kikisuriki. Sebatas catatan komitmen, dimana saya akan mencoba menulis perjalanan dari proses pencarian jawaban & penyelesaian tantangan harian.

Oke #MagicalMay2012 #1 : Gratitude List: Tulis 10 hal yang kamu rasa pantas untuk kamu syukuri dalam hidupmu.

Huff. Gak tau kenapa hal yang nampaknya mudah ini sangat terlihat sulit bagi saya. Bukannya tidak mudah bersyukur, tapi ketika saya menelusuri kembali hal-hal yang saya syukuri, saya jadi teringat kembali pada masa dan proses yang telah saya jalani. Terus terang di beberapa bagian, saya cukup melewati beberapa hal yang berat. Yah bumbu bumbu hidup yang tajam lah. Tuh kan belum mulai nomor 1 aja udah mau nangis, nampaknya ini akan menjadi salah satu ‘pelepasan’, mencoba membuka diri dan juga jujur.

  1. Tentu, terima kasih saya untuk Romo & Ibu. Orang tua saya untuk segala pengorbanan, pelimpahan kasih, dan perjuangannya yang gak pernah selesai untuk membuat saya dan adik saya bahagia. Atas segala keringat, darah dan air mata mereka dalam membesarkan saya. Saya tumbuh dalam keluarga kecil yang sempat ‘dikecilkan’ dan di sana kami belajar membesarkan hati. Cukup sampai hati yang besar, jangan sampai berkepala besar. Hehe. Terima kasih melewatinya bersama, saya senang kami masih bersama. Sabar ya Romo & Ibu, kita bareng-bareng & pelan-pelan menciptakan kebahagiaan:)
  2. Pekerjaan yang baik. Ngerjain banyak side job sampe sampe keteteran >.<. Tapi kalau saya runut apa yang saya kerjakan dari kuliah – sekarang, yang saya cita-citakan dalam joblist terjalankan, serupa tapi tak sama. Kabar lebih baiknya, list yang ingin saya kerjakan masih banyak, saya yakin ke depannya saya bisa mewujudkan itu. Terima kasih ke diri saya sendiri yang maruk pengen ngerjain banyak hal dalam hidup.
  3. Bersyukur udah beli tanah dengan uang sendiri, walaupun kecil, dan agak minggir Jakarta. Tapi ini yang bikin orang tua tenang, nanti pelan-pelan bangun rumah. Ini adalah ketenangan bagi orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan berpindah-pindah dan tinggal di rumah kontrakan.
  4. Daya tahan tubuh (dan hati) yang tahan banting. Saya ini jarang sakit, alhamdulillah Ya Allah. Kalau hati *uhuk* kalo kebanting kayaknya saya tetep bisa meringis bahagia setelahnya, maksudnya berpura-pura tidak sakit. *eaaa*. Pokoknya saya bangga lah sama hati dan tubuh saya ini.
  5. Twitteran. Yak, keputusan tepat untuk menolak gaptek saat itu (2009) pas pindah ke Jakarta, kalo ga twitteran, mungkin saya ga akan kenal teman-teman baru yang memberi saya banyak hal seperti belajar nulis dan lalu sampe jadi buku (ini harusnya masuk point 5.a), kalo ga twitteran saya ga bisa kenalan ama banyak orang-orang yang saya kagumi yang tadinya ada di TV. Haha Twitter Addict! Serta makasih buat facebook, friendster, dan segala kegiatan dunia online lainnya. Ya alhamdulillah banyak positifnya sampai sekarang.
  6. Gak pernah capek untuk menikmati hal hal yang berbau Film, Seni Rupa, Teater, dan Musik. Ini yang bikin saya menghargai banyak hal dan memperhatikan detail.
  7. Udah bikin passpor, langkah pertama dari sekian banyak langkah nanti di benua benua lain. Amin.
  8. Sekarang ga bingung besok makannya gimana. Karena saya dulu pernah pada posisi, “semoga besok ada yang dimakan”.
  9. Teman dan sahabat yang baik dari jaman SMA – sekarang. Banyak kemudahan datang dari mereka.
  10. Tuhan, Semesta, dan Waktu. Terima kasih menciptakan dan membentuk saya seperti sekarang. Gak sabar juga lihat yang sudah disiapkan di depan.

Fyuuuh! It’s not easy.

Alhamdulillah. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.:)

Cap Pertama Passpor

Wohooooo.

Akhirnya punya passpor juga, alhamdulillah yah, sesuatu. Sebagai orang yang punya cita-cita keliling dunia, ini adalah langkah pertama. Betul?

Singapore, menjadi negara pertama yang menghias passpor saya. Tadinya sih saya, Artasya, dan Poeti mau nonton Foo Fighter. Karena batal, teteplah kita kesana, mau nonton Wicked juga gitu. Since this is my first time, i was sooooo exciteeeeeed!

CAUTION: Postingan ini akan mengandung banyak foto foto narsis, harap maklum lah ya…baru pertama + narsis ini sudah mendarah daging


Begitu sampai di Changi, langsung naik MRT (Mass Rapid Transportation) menuju apartement … GILA YAK, RAPI BANGET, TERATUR! Orang – orang yang lagi nunggu ini tertib banget, mereka tanpa disuruh itu nunggunya di belakang garis, biar ga mengganggu orang yang keluar, ada televisi yang jadi penanda next MRT akan datang berapa lama lagi. Canggih parah. (oke foto dulu dong sambil nunggu MRT)

Continue reading “Cap Pertama Passpor”

Postcard From The Zoo

Akhirnya, tepat di penutupan Bulan Film Nasional, 31 Maret lalu saya bisa menonton film Postcard From The Zoo, kebetulan hari itu adalah pemutaran terakhir di Indonesia. Saya antusias sekali menonton film ini, tentu karena ada embel embel “Zoo”, saya yang memang penggemar Kebun Binatang ini ingin tau cerita seperti apa sih yang ditawarkan, belum lagi ada Ladya Cheryl yang bagi saya seperti Ellen Page nya Indonesia karena sering memainkan film film yang ‘gak ketebak’, juga ada Nicholas Saputra, dan tentu dari sutradaranya sendiri Edwin. Saya pernah menonton karya dia sebelumnya Babi Buta Ingin Terbang, dan film dia memang sangat berbeda, permainan visualnya sangat tajam, adegan-adegannya lebih bersifat simbolis daripada naratif.

Cerita dimulai dengan kehidupan Kebun Binatang Ragunan dan anak kecil yang lucu banget, dia mengeksplor kebun binatang itu dari pagi – siang – malam, ya, dia tinggal di sana. Adegan adegannya sangat indah, Ragunan menjadi sangat menakjubkan, saya seperti dibawa ke dunia Oz, tapi di Ragunan. Sangat damai, terlalu damai buat saya sampai saya terharu sendiri dan nangis. Anak itu beranjak dewasa, Lana (Ladya Cheryl) menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebun binatang. Lana sangat mengagumi binatang jerapah, dia menyimpan obsesi sendiri terhadap hewan paling anggun itu. Terus terang, saya sangat amat iri dengan Ladya Cheryl, dengan aktingnya, dengan kesempatan yang diberikan untuknya di film itu, dia bisa masuk ke kandang jerapah yang sangat saya sukai kalo saya ke Ragunan. Kedekatan emosional dia dengan macan, kuda nil dan binatang lainnya pun begitu. Saya tahu akting itu tidak mudah, apalagi harus berakting dengan hewan,  saya tidak melihat rasa ketakutan atau jijik dari Ladya, dia bermain dan menjiwai dengan sangat apik. Salut.

Lalu hadirlah Sang Cowboy yang juga pesulap, Nicholas Saputra. Sungguh karakter yang sangat unik. Dia mencari nuansa yang mendukung jiwanya. Berkelana di Ragunan seakan itu adalah hutannya. Haha Edwin benar benar gila. Lana tertarik, mengikuti, dan ikut pergi bersama Cowboy. Keluar untuk pertama kalinya Ragunan. Dan lalu banyak kejutan yang terjadi hingga akhir film. Keterkaitan antara kehidupan hewan dan tingkah manusia. Sungguh film yang sangat sureal dan indah. Scoring yang cukup apik. Beberapa bagian sangat puitis. Saya sangat amat menikmati dan bersyukur, ada yang membuat film bersetting Kebun Binatang dan mengemasnya dengan rasa yang mendamaikan.

Film ini terpilih mengikuti kompetisi Berlin International Film Festival 2012, dan setelah BFN ini, ia akan berkeliling dunia, makanya donasi untuk menonton film ini cukup mahal, tapi dengan pengalaman yang saya dapat saat menontonnya, it’s worth. Semoga segera kembali diputar di Indonesia, tapi saya ga yakin bisa lolos di bioskop-bioskop pada umumnya, karena Sutradara tidak ingin menyensornya. Memang ada beberapa adegan yang cukup hmm… tapi kalau itu hilang dan disensor, esensi film ini hilang.

Secara singkat, maknanya filmnya bagi saya : Terkadang kehidupan di luar kebun binatang, bisa lebih liar daripada di dalamnya

“Hilang dan pergi itu berbeda. Kalau hilang itu harus dicari. Kalau pergi, nanti juga balik sendiri” – PFTZ

POSTCARDS FROM THE ZOO
Directed & Written by: Edwin. Producer: Meiske Taursia. Co-writers: Daud Sumolang, Titien Wattimena. Director of Photography: Sidi Saleh. Editor: Herman Kumala Panca. Art Director: Bayu Christianto, Kurniawansyah Putra. Art Supervisor: Eros Eflin. Scoring Music: Dave Lumenta. Zeke K Make Up: Eba Sheba. Casting: Nanda Giri. Costume Designer: Aulia Yogyanti. Cast: Ladya Cheryl, Nicolas Saputra, Adjie Nur Ahmad, Klarysa Aurelia Raditya, Dave Lumenta, Abizars, Iwan Gunawan, Nitta Nazyra C. Noer, Heidy Trisiana Triswan.

Sumber ilustrasi Postcard From The Zoo didapat dari sini