Bertemu Marie Kondo dari OKHOME CLEANING: A review

*This post dedicated to Mba Puty yang saya juluki Marie Kondo.

Siapa sih Marie Kondo? Marie Kondo adalah seorang konsultan kebersihan dan tidying expert asal Jepang yang memperkenalkan metode beres-beres efisien dan menyenangkan yang ia namakan metode “KonMari”. Ia suka membagi tips soal merapikan pakaian, menata buku dan koper.

Well, mungkin aga lebay sih hahah… tapi itulah yang terlintas di kepala saat melihat Mba Puty bekerja. Continue reading “Bertemu Marie Kondo dari OKHOME CLEANING: A review”

[Review] Go-Clean!

Hamil di era gojek ini banyak kemudahkan sekali ya. Jaman trimester awal dan mual-mual plus ngidam ini itu, ada Go Food for the rescue. Nah sekarang, ketika sudah menghitung hari untuk kehadiran #BabyT dan ruangan perlu diberesin, ada layanan Go Clean, jasa membersihkan rumah yang masih di bawah manajemen dari Gojek. Karena udah hamil tua kan ya, jadi udah ga kuat lah ngeberesin kontrakan walau seuprit ini.

Layanan GoClean (masih beta) ini ada di dalam apps Gojek, jika masih belom nampak iconnya, boleh coba update appsnya ya. Cara memesannya gampang!  Continue reading “[Review] Go-Clean!”

Welcome To My Neighborhood

 Ga kerasa udah lima tahunan tinggal & hidup di lingkungan ini, dari yang masih cupu baru dateng ke Jakarta sampe sekarang udah berumah tangga. Tempat ini saksi dimana daku mengarungi jeram sadgenic haha. Masa masa galau itu =)) Continue reading “Welcome To My Neighborhood”

Bridegenic: Hidden Paradise Wedding Venue

Katanya, tiap pasangan akan mempunyai ‘tantangan’ tersendiri saat mempersiapkan pernikahan. Yaaa, karena ini adalah salah satu moment penting dalam hidup sih ya. Pastinya kita punya keinginan untuk membuat senang diri sendiri dan juga keluarga, cuma menentukan jalan tengah antar keinginan itu yang kadang susah.

Banyak cerita di luar sana, ada keluarga kedua belah pihak calon pengantin yang beradu pendapat karena punya ego & keinginan masing-masing, untuk pengaturan ini itu dan lain sebagainya. Continue reading “Bridegenic: Hidden Paradise Wedding Venue”

Jeprat Jepret Korea dengan Xperia Z1

Anyeong Haseo!

image
Nami Island

Baru balik dari outing ke Korea bareng kantor dan bawa oleh oleh foto foto tentunya. Mwahahaha. *banana dance*

Nah di perjalanan trip kali ini, aku berkesempatan bawa Smartphone Waterproof Premium Sony Xperia Z1 dari @SonyXperiaID, modelnya sleek banget. Layarnya 5 inci, resolusinya 1080p dengan teknilogi Triluminous dan Reality Engine. Gede tapi enak di genggaman,  gak ngerasa kegedean juga walo sebelumnya saya make iPhone 5.  Saya orangnya sih ga terlalu ribet yah kalo soal ponsel, yang penting kameranya bagus karena saya suka banget foto foto, suka nyari yang instagram moment banget gitu *follow instagram saya di sini ya *teteup*.

Continue reading “Jeprat Jepret Korea dengan Xperia Z1”

Pandai Besi “Daur Baur” & Guruh Gypsy

Pagi ini saya mendengarkan CD Musik Pandai Besi “Daur Baur”. Nama Pandai Besi memang sering banget seliweran di timeline saya dari beberapa bulan lalu, tidak menilik lebih jauh, sekilas yang saya tahu mereka adalah project baru Efek Rumah Kaca yang mendaur ulang lagunya di studio Lokananta. Bersamaan pula saat itu banyak sekali tagar #SaveLokananta di hembuskan secara digital oleh insan insan yang peduli dunia permusikkan.

Oke, apa itu Lokananta?

image
Studio Lokananta, Solo (taken from google)

Continue reading “Pandai Besi “Daur Baur” & Guruh Gypsy”

Postcard From The Zoo

Akhirnya, tepat di penutupan Bulan Film Nasional, 31 Maret lalu saya bisa menonton film Postcard From The Zoo, kebetulan hari itu adalah pemutaran terakhir di Indonesia. Saya antusias sekali menonton film ini, tentu karena ada embel embel “Zoo”, saya yang memang penggemar Kebun Binatang ini ingin tau cerita seperti apa sih yang ditawarkan, belum lagi ada Ladya Cheryl yang bagi saya seperti Ellen Page nya Indonesia karena sering memainkan film film yang ‘gak ketebak’, juga ada Nicholas Saputra, dan tentu dari sutradaranya sendiri Edwin. Saya pernah menonton karya dia sebelumnya Babi Buta Ingin Terbang, dan film dia memang sangat berbeda, permainan visualnya sangat tajam, adegan-adegannya lebih bersifat simbolis daripada naratif.

Cerita dimulai dengan kehidupan Kebun Binatang Ragunan dan anak kecil yang lucu banget, dia mengeksplor kebun binatang itu dari pagi – siang – malam, ya, dia tinggal di sana. Adegan adegannya sangat indah, Ragunan menjadi sangat menakjubkan, saya seperti dibawa ke dunia Oz, tapi di Ragunan. Sangat damai, terlalu damai buat saya sampai saya terharu sendiri dan nangis. Anak itu beranjak dewasa, Lana (Ladya Cheryl) menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebun binatang. Lana sangat mengagumi binatang jerapah, dia menyimpan obsesi sendiri terhadap hewan paling anggun itu. Terus terang, saya sangat amat iri dengan Ladya Cheryl, dengan aktingnya, dengan kesempatan yang diberikan untuknya di film itu, dia bisa masuk ke kandang jerapah yang sangat saya sukai kalo saya ke Ragunan. Kedekatan emosional dia dengan macan, kuda nil dan binatang lainnya pun begitu. Saya tahu akting itu tidak mudah, apalagi harus berakting dengan hewan,  saya tidak melihat rasa ketakutan atau jijik dari Ladya, dia bermain dan menjiwai dengan sangat apik. Salut.

Lalu hadirlah Sang Cowboy yang juga pesulap, Nicholas Saputra. Sungguh karakter yang sangat unik. Dia mencari nuansa yang mendukung jiwanya. Berkelana di Ragunan seakan itu adalah hutannya. Haha Edwin benar benar gila. Lana tertarik, mengikuti, dan ikut pergi bersama Cowboy. Keluar untuk pertama kalinya Ragunan. Dan lalu banyak kejutan yang terjadi hingga akhir film. Keterkaitan antara kehidupan hewan dan tingkah manusia. Sungguh film yang sangat sureal dan indah. Scoring yang cukup apik. Beberapa bagian sangat puitis. Saya sangat amat menikmati dan bersyukur, ada yang membuat film bersetting Kebun Binatang dan mengemasnya dengan rasa yang mendamaikan.

Film ini terpilih mengikuti kompetisi Berlin International Film Festival 2012, dan setelah BFN ini, ia akan berkeliling dunia, makanya donasi untuk menonton film ini cukup mahal, tapi dengan pengalaman yang saya dapat saat menontonnya, it’s worth. Semoga segera kembali diputar di Indonesia, tapi saya ga yakin bisa lolos di bioskop-bioskop pada umumnya, karena Sutradara tidak ingin menyensornya. Memang ada beberapa adegan yang cukup hmm… tapi kalau itu hilang dan disensor, esensi film ini hilang.

Secara singkat, maknanya filmnya bagi saya : Terkadang kehidupan di luar kebun binatang, bisa lebih liar daripada di dalamnya

“Hilang dan pergi itu berbeda. Kalau hilang itu harus dicari. Kalau pergi, nanti juga balik sendiri” – PFTZ

POSTCARDS FROM THE ZOO
Directed & Written by: Edwin. Producer: Meiske Taursia. Co-writers: Daud Sumolang, Titien Wattimena. Director of Photography: Sidi Saleh. Editor: Herman Kumala Panca. Art Director: Bayu Christianto, Kurniawansyah Putra. Art Supervisor: Eros Eflin. Scoring Music: Dave Lumenta. Zeke K Make Up: Eba Sheba. Casting: Nanda Giri. Costume Designer: Aulia Yogyanti. Cast: Ladya Cheryl, Nicolas Saputra, Adjie Nur Ahmad, Klarysa Aurelia Raditya, Dave Lumenta, Abizars, Iwan Gunawan, Nitta Nazyra C. Noer, Heidy Trisiana Triswan.

Sumber ilustrasi Postcard From The Zoo didapat dari sini