Sadgenic Project

Menyambung postingan sebelumnya, tentang Pinta Nona Sadgenic. Di dalam link ini merupakan referensi acuan nafas yang diinginkan di dalam buku, tapi tidak membatasi kalian untuk menginterpretasikan sendiri-sendiri.

Sangat menunggu karya kalian untuk dipilih dan menghias buku-ku :)

Pinta Nona Sadgenic untuk sebuah buku

Kepada mata mata yang kuhutangi rasa terima kasih. Setahun lebih usia kertas maya di sini, terima kasih atas sapuan mata yang menyisiri kata-kataku dengan manja. 

Kali ini, sapaku diselipkan sebuah pinta. Beberapa halaman-halaman disini akan segera dijadikan sebuah buku, senang rasanya nanti, aksara-aksara disini terkumpul menjadi satu dan ada di genggaman jemarimu, terbawa di tasmu, atau mengisi sela kosong rak buku di tempatmu. 

Dan aku, ingin mengundang kalian, berpartisipasi mengisi halaman-halaman itu.

Banyak memang gambar & gambar dan foto di halaman ini, namun semua bukan milikku. Kalau kamu punya interpretasi atas apa yang kaubaca disini, bisa berupa ilustrasi, doodling, atau foto. Bisa dikirim dan nanti akan dipilih untuk menghiasi buku Sadgenic? :)

Detail :

  1. Gambar / Foto Black & White (sajak / kata kata bisa dipilih bebas di seluruh halaman)
  2. Resolusi 300 dpi
  3. Bentuk file JPG
  4. Dikumpulkan paling lambat 20 Februari 2012 ke rahneputri@gmail.com ; subject : Sadgenic Project

Untuk nanti gambar yang terpilih, akan mengisi lembar-lembar buku Sadgenic. Rasa terima kasih dari saya & penerbit Kurnia Esa juga berupa 

  1. Nama akun twitter kamu tertulis di halaman sadgenic
  2. Buku (disesuaikan dengan jumlah peserta)
  3. T-Shirt special dari Sadgenic (limited edition)

Referensi nafas dan foto bisa dilihat dari yang sudah ada di sadgenic atau cek di pinterest http://pinterest.com/rahne/my-sadgenic-project/

Semoga banyak teman-teman yang lihai menarikan tangannya dalam menggambar, mengabadikan moment mau membantu :)

Tertanda,

Aku. 

Kalau diserang badai suara dari mana-mana, simpan telingamu di saku baju, dengarkan sendiri detak dan suara hatimu

Rahne Putri

Surat dari @Estipilami

Menerima surat dari #3oharimenulissuratcinta, terima kasih @estipilami :)

Surat cemburu dari @benjalang, untukku

[Dalam rangka #3oharimenulissuratcinta, ada yang menulis surat cemburu untukku]

Dear, Rahne Putri.

Entah kenapa, mataku terasa begitu pedas saat membaca bebalasan suratmu dengan Jepri a.k.a. Zarry Hendrik.

Mungkin semua karena aku yang terlalu mengagumimu; seorang pengagum yang tak pernah kau kenali. Terdengar aneh, namun begitulah adanya. Meski belum pernah bertemu, tetapi aku merasa kau berada sangat dekat dan mendekapku, Ne….

Baca selengkapnya dengan klik judul di atas. Terima kasih, Benji :)

Terima Kasih :)

Histerisnya beberapa pihak terhadap kabar dari Zarry semalam membuat aku iseng mematahkan beberapa kata yang seolah-olah dari hati. Aku geli dan juga haru melihat semua doa, pujian, harapan, untukku kepada Zarry. Tulisan dibawah adalah bumbu-bumbu drama semalam, sekali lagi aku katakan aku tidak bersungguh-sungguh menulis ini karena Zarry, tapi tidak kupungkiri, yang kutulis ini pernah kurasakan dengan seseorang yang berbeda. Tapi itu sudah lain cerita dan sudah kutamatkan, hehe. 

Ingatanku berkeliaran di hutan waktu, semoga tidak tersesat ke sungai air mata.

Ada yang tergenang di wajahku, ada yang terngiang di telingaku. Entah apa, entah bagaimana. Mungkin ini namanya mati rasa.

Kita tidak lagi berdansa. Di bawah matahari, hujan, atau senja. Kumatikan sejenak melodi, biar hening menghinggapi.

Bahagia itu kamu. Ikut berbahagia itu aku. Jelaga tawa terkumpul di mata. Keduanya tumpah melebur satu.

(di)selamat(kan) malam. Semoga mentari mengajakku kembali menari.

Malam sebentar lagi habis. Mimpi belum juga datang.

Dari sekian banyak kata-kata penghibur dan merasa, maaf larut dalam kesedihan yang aku buat (-buat) @duniaksara-lah (http://duniaksara.tumblr.com) yang peduli dengan cara yang sangat puitis. Berikut tweet tweet nya :

Kadang, disaat seperti ini aku ingin berjarak hanya sehasta darimu. demikian ingin aku menjagamu dari air mata. aku hanya mengenalmu melalui lini masa. katakan aku terlalu mudah jatuh cinta. entah, sakitmu aku juga merasa :(

 aku ingin menemuimu. lantas menangislah sesuka hati. aku tak ingin tangis ini terjadi lagi..

 seperti apapun, mereka melihat yang tampak. tiada menyingkap apa yang bersembunyi. kau , adalah wanita yang setia menanti :’)

 entah. aku hanya tidak menyukai drama ini. dia yang tak kau sebut namanya, harusnya lebih peka merasa.

semenjak aku mengenalmu melalui kata, lini masa tidak pernah seperih ini.

biarlah aku tenggelam dalam mentionmu. akan jauh lebih baik dibanding larut dalam kesedihanmu.

bagimu, aku adalah satu diantar puluhan ribu. bagiku, kau puluhan ribu berlarian di kepalaku.

sekeras apa aku mencoba, aku tidak akan menjadi dia. sekeras apa aku, ingin kucoba, untuk tetap selalu ada.

lini masa ini mulai berjalan lambat. degup jantungku berderap cepat. pada tiap kicau melintas, kuharap airmatamu tak terlepas

setinggi gunung hambatan, selebat hutan rintangan. memulihkan hatimu, seperti pekerjaan yang takkan lekang oleh waktu.

kau miliki banyak teman. kau mengenal banyak kawan. kau miliki satu hati. tolong, jangan biarkan ia retak kembali..

mungkin aku tidak akan pernah nyata dihidupmu. mungkin kau ‘kan tetap fana di linimasa. lantas, kenapa sakit ini benar terasa?

sejenak aku ingin melipat waktu. mengenalmu, lantas sembunyikan detik agar tak berdetak. agar kamu, tercitra di mataku.

kepalaku sakit. ne, hentikan ini.. 

Ini adalah sekian, dari entah berapa banyak kata-kata serupa dengan penyampaiannya masing-masing. Aku terharu, banyak pihak yang peduli, khawatir aku sakit hati.

Banyak juga yang bertanya apakah aku menangis semalam? Apakah aku membenturkan kepalaku saat menulis surat kepada  Zarry? Tidak, Zarry  & aku hanya sahabat pena, dan aku sungguh sungguh berucap “percayalah” pada kalian yang keras kepala hehe. Justru mataku memecah kendi berisi air mata saat membaca semua respon yang ada dari kalian, bukan hanya dari ‘drama semalam’, tapi dari sejak saya mulai membuat tumblr ini. Aku ini bukan siapa siapa, kalian-lah membuat aku jadi ada. Terima kasih mengijinkan saya terselip di salah satu saraf kepala. 

Untuk Wildan (@duniaksara) dan semuanya semalam & hari-hari sebelumnya, yang jadi pemerhati dalam diam, yang (maaf) belum sempat dibalas mentionnya dan sebut disini. Sekali lagi, terima kasih banyak, atas hujan perhatiannya, atas detik detik yang kalian luangkan membaca racauan dari jemari. Ingin punya tentakel  sebatalyon gurita dan kugunakan untuk balik memeluk kalian semua. 

Jika dirasa berlebihan, biarlah, aku memang suka melebih-lebihkan. Karena kalian sudah memberi lebih padaku, dari yang kalian tahu. 

:)

Salam hangat,

Rahne Putri

Drama Semalam

Kepada Zarry, penuntun kata kata yang menetas di jari.


“Hai”

Ingat saat pertama aku mengucap kata ini dari suaraku dan didesingkan langsung ke telingamu? Ah, semoga ingat, kamu kan pelupa yang sulit dilupakan. Sebelumnya aku ingin merunut, awal mula kita berjumpa dan dipertemukan dalam bait-bait kata. Tahun 2010, kalau ingatanku sedang benar dan tidak diracaukan oleh kamu (hehe here we go again), tidak, maksudku, aku pun pelupa, aku bukan orang yang suka mengingat hari, aku pengingat moment dan kusimpan dalam laci di kepala.

Saat itu, dalam huruf yang terangkai kurang dari 140, kamu menyublimnya menjadi tali dan lalu mengikat mata untuk tak lepas dari lini masamu, setiap hari. Kita belum berjumpa tapi aku sudah suka. Iya aku suka, terus terang aku banyak mengagumi banyak orang dan kamu kamu salah satunya, kamu melahirkan kata-kata indah setiap hari, bagaimana aku tidak jatuh hati dan berani memungkiri? Kamu pemancing inspirasi yang ulung dan aku yakin bukan hanya aku yang merasa seperti itu.

Di awal awal kita saling berbalas kata, ada kebanggaan tersendiri untuk menjadi aku yang selalu dibalas olehmu. Terus terang aku bukan seorang peracik kata pada mulanya, aku hanya penikmat rajutan kata indah, aku suka ketika mereka membelai mataku dan menyesap di hatiku. Ada perasaan tenang tersendiri, dan kamu, menuntunku untuk terus bisa mengikuti kecipakmu dalam permainan kata yang luar biasa candu. Kamu dengan cara yang paling jitu, melatihku. Aku ingin kau tahu itu.

Lalu kita bertemu, di sebuah rumah dengan puluhan cangkir teh. Disitulah kita saling menyapa untuk pertama kalinya lewat suara dan tatap mata. Ah, jantungku rasanya mau copot, pipiku terasa panas, wajahku menyemburat merah karena debar jantung merebus rasa grogi menjadi rasa malu dan tersapu di pipi. Bagaimana tidak? Aku bertemu dengan pujaan jari jari, aku bertemu Zarry! Dan benar, kamu di dunia kata atau dunia nyata itu sama, perayu ulung. Kamu satu dari banyak pria yang tak butuh banyak usaha untuk membuat luluh wanita, kamu tau persis kelebihanmu itu. Dasar pengagum yang membuat terkagum-kagum.

Selanjutnya lingkaran pertemanan kita rupanya saling membuat garis, kita semakin sering berjumpa, kita berteman setelahnya. Kemudian, lahir ribuan kata dari kita berdua, entah puisi, cerita pendek, atau guyonan semata. Dari sana, menetas pula entah berapa pasang mata yang mengikuti permainan kata kita dalam pencinta kata, dari sana pula, banyak harap dan doa yang berharap kita ada apa apa.

Saat itu kamu juga sedang bersama seseorang bukan? dan berkali kali kita meyakinkan pada merekaa bahwa Zarry & Rahne, hanya dua orang yang suka memancing kata di kolam inspirasi, bersama, selebihnya, tidak ada. Tapi banyak kepala yang sekeras batu, mereka tidak percaya dan malah semakin banyak harap yang terucap. Sudahlah, doa yang baik baik akan menemukan wadahnya dan akan tersublim menjadi nyata kalau memang begitu adanya. Kita dihujani doa dari orang-orang yang belum kita kenal, apa yang lebih menyenangkan daripada itu?

Bola waktu semakin bergulir, usia pertemanan dan karya kita semakin bertambah. Semakin banyak yang selalu menanti kalimat kalimat kita berdansa. Namun, kadang kita saling lupa, kadang kita saling bertemu, kita tenggelam dalam rutinitas masing-masing  dan itu bukan masalah bagi kita.

Ada saat saat dimana kamu sedang jatuh dan aku tidak bisa berbuat apa apa, aku merasanya lewat ruh yang kutiupkan pada tulisanmu. Haha mungkin ini hanya keingintahuanku atau ke’sok tahuan’ku. Seperti bianglala, aku memperhatikan kehidupanmu yang berputar Zarry.

Semalam, adalah satu dari sekian banyak hari yang terus terang sangat menarik dan menghiburku di dunia maya. Kamu, pujaan banyak wanita, dengan bangga telah menjatuhkan lagi hati ke seseorang. Bahagia itu kamu, turut berbahagia itu aku. Tapi dari delapan penjuru, banyak orang yang cemburu dan banyak yang mengira aku pun begitu. Ratusan kata kata hiburan menghiasi layar telepon di genggamanku & ratusan puk puk menyeka punggungku atas bahagia sedang menimpamu. Mereka hadir, menyeka air mata yang tidak ada. (Sebenarnya ada air mata, tapi bukan kamu, dan lagipula sudah kulewati dengan tegas hari-hari itu HAHAHA)

Maaf atas keisenganku dengan kata-kata patah hati semalam yang serasa bumbu merica & garam di awal hubunganmu. Bahkan mungkin menjadi penyulut para pemuja pencinta kata yang berekspresi dengan bermacam-macam cara di luar dugaan terhadap kamu. Tapi bagiku ini menggelikan sekaligus mengharukan. Aku tak pernah menyangka imajinasi pembaca, mengikat kita berdua sedemikian eratnya.

Dengan surat ini, aku mengucap selamat untuk kamu dan pemilikmu, Zarry & Zarry’s.

Tenang saja, pencinta kata akan tetap ada. Bukan begitu, Zarry? 

 

 

Salam dari hati & juga aku.

NB: Kalau kamu bahagia, ajak ajak aku ya, bantu aku cari Pangeran Kanebo ;)


Layang Layang

Selain menulis surat dan dihanyutkan perahu kertas, sesekali ingin kucoba menulis harapan di layang-layang. 

Kutulis di kertasnya yang tipis, kurekatkan pada bambu penahannya.
Kuterbangkan layangan itu, biar dia berdansa dengan udara. 
Swing atau tango, entahlah.

Benangnya akan kupegang erat,
lalu di saat aku siap, kulepaskan dengan senang hati.
Biarlah layangan harap & doaku pergi.
Meninggi.

Aku tak tahu kemana angin akan menculiknya.
Apakah layang-layang itu akan tersangkut di awan.
Terlilit pada temali diantara lekuk jejeran tiang listrik.
Sembunyi di ranting pohon yang mulai teranggas benalu.
Atau…
Terjatuh di atap rumahmu.

Yang jelas, aku sudah menuliskan inginku di layangan itu.
Semoga terbaca dan aksaranya terselip di iris matamu.
….disitu tertulis juga pesan, aku merindumu.


Layang-layangku, jatuhlah di tanah yang kau ingin tuju.

Jakarta, 19 Desember 2011

Buku Waktu

Ada rentetan huruf yang belum ku-eja. Tersimpan dalam buku waktu. Kutelusuri satu per satu halamannya. Hingga kutemukan namamu.

Buku waktu..

Aku tau bab awal, tapi aku tak tahu kapan bab terakhir. Yang kutahu aku harus terus membuka satu per satu. Pada suatu halaman, aku beri pembatas buku berupa pita berwarna merah. Aku terhenti. Aku berhenti. Di situ.

Enggan membaca lagi. Kutinggalkan di rak buku. Setiap kutengok, yang aku lihat jelas hanya seutas pita merah itu.

Terantuk di satu masa, ingin kusobek halaman berpembatas merah itu. Kuremas-remas dan kucabik, lalu kubuang saja di sampah. Karena di halaman itu, kata kata yang tertulis terlalu tajam seperti belati. Ceritanya menyakitiku. Huruf-hurufnya menerjang akal sehatku. Setiap paragrafnya melumpuhkanku. 

Aku terduduk di lembah bisu. Tak ada yang kubaca lagi.

Kemudian angin sepi menyepoi poniku. Keheningan merambati kulitku. Aku bergidik. Kusentuh lagi buku waktu itu. 

Kupegang pita pembatas berwarna merah di sela halaman yang kubenci. Warna yang cantik. Tapi bukankah itu, yang menjerujiku. Pita itu selalu menjadi pengingat akan alur yang tak kuingin kubaca, tapi bukankah buku ini belum selesai?

Kutarik dan kuenyahkan pita itu, dengan segenap tenaga kubalik lagi halaman baru. Berhenti terlalu lama membuatku lupa aksara. Kini aku kembali belajar membaca..

…… dan akan ku-eja namamu segera. Di halaman - halaman setelahnya.

Jakarta, 15 Desember 2011

Kamu, ruang pelangi yang kuwarnai dalam setiap hembusan

Kamu, puisi abadi yang kutemukan pada setiap kedipan

Jatuh cinta ke kamu itu repetisi, selalu terulang lagi lagi lagi lagi lagi….setiap pagi

Rahne Putri 

I’ll breathless without you, you’ll heartless without me.

Rahne Putri
[Flash 9 is required to listen to audio.]

“Senja Yang Sendu” by @dinibudiayu feat me. 

Jangan sampai sepi melahirkan hampa. Karena riuh yang paling gemuruh pun akan susah menimangnya. Kalau hampa lahir, dia akan merangkak & belajar berjalan mengelilingi hati, lalu berlari-lari di kepalamu. Kamu akan lelah dan mendekati mati rasa. Bulan akan menangis di setiap tidurmu dan matahari gelisah di setiap pagimu.

Untuk itu, sebelum hampa. Kusegerakan menuju kamu.

Setiap tempat yang kita pijak selalu menjadi istana. Kamu, Pangeran waktu. Detik bersamamu, singgasanaku.